Melepas Semua Untuk Bisa Mengikut Kristus (1) – Mengasihi Sesuatu Lebih dari Diri Sendiri dan Allah


Tidaklah mudah untuk melepaskan sesuatu yang melekat pada kita, apalagi melekatnya sudah bertahun2 bahkan sudah puluhan tahun. Semakin sesuatu itu dekat melekat dengan kita, semakin sulit untuk kita dapat melepaskannya, apalagi jika sudah bertahun2 tertanam di dalam otak kita, sudah menjadi bagian hidup kita dan sudah menjadi kebiasaan yang nyaman untuk kita lakukan maupun kita rasakan. Tetapi sayangnya Tuhan Yesus mengajarkan bahwa jika kita ingin mengikuti Dia maka Dia ingin tidak ada DUA TUAN. Kita harus memilih hanya satu tuan, Yesus atau tuan yang lain. Jika kita tidak bisa melepaskan sesuatu yang tidak sesuai dengan Yesus di dalam hidup kita, maka kita memiliki TUAN LAIN di dalam hidup kita. Kita mungkin berpikir “toh selama ini baik2 saja kok jika saya tidak melepaskan hal ini,” tetapi masalahnya Yesus-lah yang tidak mau ada sesuatu yang menyamai diriNya didalam hati kita.

Apa Yang Melebihi Kehidupan Kekal?

Markus 10:17-31

(17) Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”(18) Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.(19) Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!”(20) Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.”(21) Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”(22) Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.(23) Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”(24) Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.(25) Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”(26) Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”(27) Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

(28) Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!”(29) Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,(30) orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.(31) Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Sebenarnya jika kita membaca kisah orang muda yang kaya diatas ini, ceritanya cukup jelas. Ada seorang muda yang kaya dan banyak harta, dia bertanya kepada Yesus, perbuatan apakah yang harus dia perbuat supaya memperoleh hidup yang kekal. Yesus menjawab dengan mengajukan persyaratan2 perbuatan di dalam Taurat, tetapi pertama2Yesus hanya mengajukan setengah dari hukum taurat, yaitu hal2 yang berhubungan dengan “kasih kepada manusia.” Sedangkan taurat sendiri dibagi menjadi 2 hal besar, yaitu mengasihi Allah dengan segenap apa yang kita punya dan mengasihi manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Di dalam kasus tanya jawab Yesus dengan ahli taurat mengenai hidup yang kekal, Yesus mengajukan syarat untuk melakukan 2 hukum dasar Taurat ini, seperti ayat berikut:

Lukas 10:25:28(25) Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”(26) Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”(27) Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”(28) Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Tapi kali ini di dalam kisah orang muda ini Yesus pertama kali mengajukan syarat satu hukum saja dr 2 hukum utama dari taurat, yaitu mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Orang muda itu berkata bahwa ia sudah menjalaninya sejak masa mudanya. Setelah orang muda ini berkata demikian barulah Yesus melanjutkan dengan syarat ke 2 yaitu: menjual semua harta dan membagikannya kepada orang miskin lalu pergi mengikut Yesus. Tetapi akhirnya orang muda itupun sedih dan pergi, disini terlihat bahwa dia tidak sanggup melakukan syarat ke 2 dari Yesus ini.

Perlu kita ingat bahwa sebenarnya hukum taurat terdiri dari 2 garis besar yaitu mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Di dalam ayat yang lain Yesus mengakui bahwa jalan keselamatan melalui taurat adalah melakukan 2 perintah ini dengan sempurna.

Lukas 10:25-28

(25)Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?(26) Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”(27) Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”(28) Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.

Disini saya berpikir bahwa sesungguh orang muda inipun tidak bisa melakukan syarat pertama yang Yesus ajukan, nampaknya Yesus ingin memperjelas kasus masalah ini, yaitu sebenarnya orang muda ini tidak pernah melakukan syarat2 taurat dengan sempurna. Syarat ke 2 adalah menjual segala harta, membagikan kepada orang miskin dan mengikut Yesus. Pemuda ini jelas tidak mau melepaskan hartanya. Dia tidak mengasihi Allah dengan segenap apa yang dia punya. Dia lebih mengasihi apa yang dia punya daripada Allah.

Beberapa rekan saya berpendapat bahwa model pemuda seperti ini adalah model orang yang lebih mengasihi dirinya sendiri daripada mengasihi Allah. Tetapi disini saya berpandangan lain. Bahkan jika kita telusuri maka sebenarnya pemuda ini pun juga tidak mengasihi dirinya sendiri. Kok bisa? Ya, dia lebih mementingkan hartanya/hidup di dunia ini daripada hidup kekal. Jadi dengan mengorbankan kehidupan kekal, apakah dia mengasihi dirinya sendiri? TIDAK.

Dia lebih mengasihi APA YANG DIA PUNYA daripada dirinya sendiri.

Lain halnya jika seseorang itu tidak percaya akan adanya kehidupan kekal setelah kematian. Pemuda ini bukan orang yang tidak percaya kehidupan kekal. Pemuda ini percaya akan adanya kehidupan kekal, maka dari itu dia menanyakan syarat2 agar memperoleh kehidupan kekal.

Betapa mengerikan ternyata ada model2 orang seperti ini. Orang yang lebih mengasihi APA YANG DIA PUNYA lebih daripada dirinya sendiri dan lebih daripada Allah. Jika orang yang lebih mengasihi dirinya sendiri lebih daripada Allah dan sesama biasa disebut orang egois, maka orang yang lebih mengasihi APA YANG DIA PUNYA lebih daripada Allah, sesama bahkan dirinya sendiri akan disebut sebagai orang apa????

Apakah benar orang-orang seperti ini ada di kehidupan nyata kita sekarang ini? ADA! Dan kita akan membahasnya.

Justru karena banyak orang model seperti ini maka Yesus berkata: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Murid2 menjadi bingung dan bertanya:“Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”

Tuhan Yesus menjawab: Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.

Jelas2 Tuhan Yesus berkata bahwa “bagi manusia hal itu tidak mungkin!” Apa artinya? Artinya ya “TIDAK MUNGKIN!” MANUSIA TIDAK MUNGKIN MENYELAMATKAN DIRINYA SENDIRI.” Tetapi syukur kepada Allah bahwa “SEGALA SESUATU ADALAH MUNGKIN BAGI ALLAH.” Jadi jika ada orang yang selamat, siapakah yang mengerjakan keselamatan itu didalam manusia? Manusia kah? Yesus berkata “TIDAK MUNGKIN!” tetapi “BAGI ALLAH ITU MUNGKIN.” Jadi tidak mungkin manusia melakukan keselamatannya sendiri, tetapi hanya kasih karunia Allah yang membuat manusia bisa selamat.

Coba kita bayangkan bahkan ada manusia yang lebih mementingkan APA YANG DIA PUNYA daripada keselamatan jiwanya, daripada kehidupan kekal jiwanya. Apakah hal ini masuk akal??? Padahal logikanya, untuk apa semua yang kita punya itu jika kita tidak mendapatkan kehidupan yang kekal??? Hal ini tidak masuk akal bukan??? Tapi pada kenyataannya ada manusia2 seperti ini.

Bagaimana kita bisa mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri jika kitapun lebih mengasihi APA YANG KITA PUNYA lebih daripada diri kita sendiri? Bagaimana kita bisa mengasihi Allah dengan SEGENAP APA YANG KITA MILIKI jika kita lebih mengasihi APA YANG KITA MILIKI daripada Allah?

Lalu selanjutnya Yesus berkata: “sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Meninggalkan rumahnya, saudaranya, ibu bapanya, anak2nya, ladangnya. Ini berarti apapun yang kita punya. Jika kita masih memilik sesuatu yang melebihi Tuhan, maka berati2 lah, karena kita akan seperti anak muda kaa tadi yang INGIN MEMPEROLEH KESELAMATAN TETAPI TIDAK BISA MEMPEROLEHNYA. Jika kita mendapat panggilan untuk mengasihi Allah lebih dari apapun yang kita punya, maka bagi saya itu adalah pertanda bagus bahwa Allah mengerjakan keselamatan di dalam kita. Ingat, hal itu tidak mungkin bagi manusia, tetapi mungkin bagi Allah.

Gratis Tapi Tidak Murahan.

Ayat diatas yang telah kita baca tadu sering digunakan beberapa orang untuk mengajarkan bahwa jika kita memberikan apapun yang kita punya untuk Tuhan maka Tuhan akan membalasnya seratus kali lipat. Jadi jika kita menyetor uang 1juta kepada gereja, maka kita akan mendapatkan 100juta.

Saya sangat tidak setuju hal ini. Jika ayat diatas artinya adalah harafiah demikian, maka seharusnya para rasul itu sudah menjadi orang2 paling kaya di dunia. Tetapi pada kenyataannya tidak. Berarti ayat tersebut bukan berarti harafiah. Jikalau Yesus menjanjikan setiap orang akan menjadi kaya karena 100kali lipat, maka Yesus sebenarnya sedang mengajarkan untuk kembali kepada harta/apa yang kita punya, maka ajaran Yesus tidak konsisten karena Yesus malah mengembalikan esensinya kembali kepada “mencari/mementingkan apa yang kita punya.”

Disini saya tidak menyuruh orang menjual semua hartanya dan membagikannya kepada orang miskin. Kita tidak tahu apakah Yesus benar2 akan menerima perbuatan pemuda itu jika ia benar2 akan menjual semua hartanya, apakah Yesus hanya melakukan test(seperti Abraham mempersembahkan Ishak) atau betul2 Yesus akan menyuruh menjual segala hartanya. Jikapun memang Yesus benar2 menyuruh pemuda itu menjual hartanya, maka juga seharusnya juga tidak masalah karena para Rasul juga meninggalkan semua dan mengikut Yesus. Tetapi ada juga orang2 yang dipakai Tuhan melalui harta yang dia punya. Tetapi masalahnya adalah, jika kita punya harta banyak apakah itu menjadi allah lain di dalam kehidupan kita atau tidak? Jika tiba2 Tuhan ijinkan harta kita habis seketika, apakah kita akan merasa kehilangan harta itu lebih daripada merasa kehilangan Allah/kehidupan kekal?

Ada beberapa orang yang saya kenal, mempunyai banyak harta, di dalam perjalanan kehidupannya dia terpanggil ntuk menjadi fulltimer melayani menjadi pendeta dimana kehidupannya berubah total, gaya hidupnya akan mengalami perubahan total menjadi turun, tetapi orang2 itu dengan rela hati mau menjalaninya.

Ada juga beberapa orang kaya yang menghabiskan banyak hartanya untuk membangun tempat2 sosial. Bahkan ada yang menjadi fulltimer melayani di tempat2 sosial tersebut.

Mungkin tidak semua orang terpanggil dengan cara yang sama, di jaman Rasul2 pun ada orang2 kaya yang mensuport pelayanan pemberitaan Injil. Disini saya hanya mengajak untuk berhati2 terhadap APA YANG KITA MILIKI, apakah itu sudah menjadi allah lain di dalam kehidupan kita? Apakah kita mengasihi APA YANG KIA PUNYA lebih dari diri kita sendiri, sesama kita dan terlebih lagi Allah?

Lukas 14:25-35

(25) Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:(26) Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.(27) Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.(28) Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?(29) Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,(30) sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.(31) Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?(32) Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.(33) Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.(34) Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?(35) Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Yesus berkata dengan keras “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Disini dikatakan bapa, ibu, isteri, anak, saudara, artinya adalah orang2 terdekat kita, sesuatu yang di dalam kehidupan kita itu sangat dekat. Bahkan hal2 yang sangat dekat dan penting di dalam kehidupan kita pun tidak boleh menjadi lebih daripada Tuhan, bahkan hal itu adalah nyawa kita sendiri. Yesus berkata dengan tegas bahwa orang2 yang lebih menyayangi sesuatu lebih daripada Yesus, maka dia tidak bisa menjadi murid Yesus.

Tidak hanya berhenti disini saja, Yesus melanjutkan dengan perumpamaan orang yang mau mendirikan rumah, maka orang itu harus menghitung2 dulu, jangan asal bangun saja, jika tidak selesai maka akan ditertawakan orang. Dilanjutkan dengan perumpamaan orang yang akan berperang, maka harus melakukan perhitungan2 yang matang. Artinya disini Yesus berkata bahwa kita harus berpikir2 dulu sebelum berkata “aku mau ikut Yesus!” Pikir2 dulu harga yang harus dibayar untuk mengikut Yesus, apakah kita bersedia untuk hidup sesuai dengan resiko menjadi murid Kristus yaitu dengan melepaskan segala yang kita punya dan mengikut Yesus. Jika mau mengikut Yesus maka tidak boleh ada yang melebihi Dia di dalam kehidupan kita.

Banyak orang mengira ikut Yesus itu kehidupannya akan menjadi enak, maka banyak orang dengan gampang berkata “aku mau ikut Yesus.” Adapula yang ikut2an dan tidak tahu apa syarat untuk mengikut Kristus, dia ikut2an saja dan dengan gampang berkata “saya pengikut Kristus.” Padahal Yesus dengan keras berkata bahwa kita harus pikir2 dulu untuk mengikut Dia, kalau tidak mau trima syaratnya untuk melepaskan semua, ya maka lebih tidak usah sama sekali.

Banyak saya jumpai orang2 Kristen yang melunakkan ajaran Yesus ini. Mereka berkata pada orang2, ikut Yesus itu enak, asal selamat, dll. Mereka tidak menjelaskan bahwa mengikut Yesus itu ada resiko yang harus ditanggung, yaitu harus melepaskan semuanya dan mengikut Yesus. Hal pelunakan syarat mengikut Kristus ini menimbulkan banyak sekali kesalahan2 pandangan dan tentu saja dampaknya adalah aplikasi yang salah di dalam kehidupan Kekristenan seseorang, bahkan bisa menjurus kepada kasus dimana orang sudah merasa menjadi murid Yesus tetapi sebenarnya hatinya belum memenuhi kualifikasi untuk menjadi murid Kristus dan hal ini sangat mengerikan sekali.

Memang kita tidak bisa secara utuh untuk menjalani semua dengan benar 100% karena kesempurnaan manusia yang sudah lahir baru itu sifatnya progresif, tetapi seharusnya paling tidak kita sudah tahu syarat dan resikonya dan dengan hati yang bulat mau untuk menjalani syarat2 mengikut Kristus ini.

Ketika rasul2 berkata “kami telah meninggal segala sesuatu dan mengikut engkau,” Yesus tidak menyangkalnya bukan? Tetapi kita sama2 tahu bahwa setelah itu ada kasus dimana Petrus menyangkal Yesus, murid2 ada yang ketakutan setelah Yesus mati, dll. Setelah mendapatkan RohKuduspun para rasul masih melakukan kesalahan dan ketidakmengertian, contohnya seperti kasus dimana Petrus disadarkan Tuhan bahwa keselamatan dan RohKudus adalah juga untuk bangsa2 lain(kasus Kornelius), mereka tidak luput dari kesalahan, tetapi hati mereka mau untuk selalu diubah kearah yang lebih benar, ini berarti mau untuk tidak memegang keinginan sendiri atau ego, tetapi tunduk kepada apa yang Tuhan mau, berarti hatinya mencintai Tuhan lebih daripada dirinya sendiri. Juga terbukti bahwa rasul2 dan banyak para pengikut Kristus yang lain yang mati menjadi martir.

—Keselamatan itu gratis, tapi tidak murahan.—

Salam ^_^

Sampai jumpa di dalam seri selanjutnya: Melepas Semua Untuk Bisa Mengikut Kristus (2) – Doktrin yang Menjadi Ego(Jurus Pokoknya)

2 Tanggapan

  1. Maju trus,Daniel. Tuhan Yesus menyertai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: