Mujizat di Tengah Badai


Seringkali kita mengalami banyak masalah dan tekanan di dalam berbagai aspek kehidupan kita dan seringkali pula hal2 itu menekan kita sangat berat, menjadi badai yang besar di dalam kehidupan kita bahkan membuat kita merasa hampir mati sehingga kita meminta keamanan, jalan keluar, bahkan mujizat yang daripada Tuhan. Ya, tidak disangkali bahwa kita sebagai umat kristen seringkali mendapat pengajaran-pengajaran mengenai hal ini, mendapat banyak kesaksian menganai hal2 seperti ini.

Saya ingin mengajak kita semua untuk menanggapi berbagai sisi dari sikap dan pola pikir di dalam Firman Tuhan sendiri mengenai hal ini.

  • Sikap Yesus dan murid-murid di tengah badai

Mrk 4:35-41

4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Ayat2 diatas menyatakan bahwa pertama-tama Tuhan Yesus berbicara kepada murit-murit dan mengajak mereka semua yang ada di situ untuk pergi bertolak ke seberang dengan menaiki perahu. Ditengah-tengah perjalanan terjadilah angin ribut yang dahsyat sampai2 ombak menyembur ke dalam perahu dan perahu itu mulai penuh dengan air. Yesus tidur di dalam perahu. Murit-murit menjadi takut karena situasi ini lalu mereka membangunkan Yesus bahkan berkata bahwa Yesus tidak peduli kalo mereka binasa.

Lalu Yesus menghardik angin ribut itu dan juga menegur mereka karena mereka begitu takut dan tidak percaya.

Nah beberapa pertanyaan akan timbul:

Mengapa Yesus menegur mereka?

Mengapa Yesus menegur mereka bila toh Yesus juga akhirnya meredakan angin ribut itu?

Mengapa Yesus menegur mereka, bukankah yang bisa meredakan angin ribut memang Yesus?

Bukankah bila angin ribut tidak diredakan maka mereka tidak dapat sampe seberang? Lalu mengapa Yesus menegur mereka juga?

Bila angin ribut itu tidak perlu diredakan untuk mereka bisa sampe seberang, mengapa Yesus meredakan nya juga?

Apakah Yesus menegur hanya karena mereka tidak percaya saja?

Apakah seharusnya mereka membangunkan Yesus dengan rasa percaya?

Dll.

Marilah kita bahas situasi ini.

  • Firman Tuhan adalah Ya dan Amin

Pertama2 dikatakan bahwa Yesus mengajak mereka ke seberang.

Mrk 4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”

Nah, bila Tuhan berkata “kita akan bertolak ke seberang” maka hal itu pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak terjadi, sebab perkataan Tuhan adalah YA dan AMIN.

Saya tidak pernah menjumpai di ayat alkitab manapun yang mencatat bahwa perkataan Tuhan itu gagal, atau gagal karena perbuatan manusia atau freewill manusia yang berkaitan. TIDAK PERNAH..!!!

Bahkan banyak dari pernyataan2 Tuhan yang bisa dibilang adalah sesuatu perkataan atau nubuatan yang “tidak enak,” contoh:

Mat 26:20-24

26:20 Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.

26:21 Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: ” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.”

26:22 Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorangdemi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?”

26:23 Ia menajwab: “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang menyerahkan Aku.

26:24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang oleh nya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

Dari ayat di atas kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus sebenar nya sudah tahu apa yang akan terjadi dan perkataan Nya adalah perkataan yang pasti akan terjadi. Meskipun itu pahit bagi manusia tetapi dia mengerti bahwa itulah yang harus terjadi, bahkan hal hal tentang penderitaan kematian Kristus pun sudah dinubuatkan oleh nabi2 dalam perjanjian lama seperti Zakharia dan Yeremia.

Kita lihat di sini bahwa kronologi atau cara2 kematian nya sampai di kayu salib sudah dikatakan sendiri oleh FIRMAN ALLAH melalui perantaraan nabi2 Nya.

Kita bisa melihat dari sisi lain lagi, yaitu bahwa Yudas yang akan menyerahkan Yesus tidak bertobat ketika dia tahu bahwa Yesus telah mengetahui bahwa dia berkhianat. Jika Yudas bertobat dan Yesus pun tidak diserahkan dan diperlakukan secara demikian maka apa yang terjadi? Yang terjadi adalah SEMUA NUBUATAN DARI PREJANJIAN LAMA AKAN BATAL..!!!! Itu berarti firman Tuhan tidak YA dan tidak AMIN.

Jangan disalahpahami dengan berpikir bahwa jika begitu kita pun tidak harus memberitakan Injil dan membawa jiwa agar bertobat, karena yang saya bicarakan ini adalah dari sisi atau sudut pandang Allah dengan segala ke-maha an Nya. Bukan dari sudut pandang manusia, manusia memang harus memandang sebagaimana manusia sendiri itu diciptakan dengan keterbatasan nya dan hanya melakukan perintah-Nya. Ke 2 hal ini adalah sesuatu yang sangat berbeda, kita tidak bisa disamakan di dalam ke-maha an Nya.

Banyak ayat menyatakan Hikmat Mu tak terselami, pengetahuan Allah itu kita tidak terbatas, kuasa Allah tak terbatas. Kadang kita hanya menggambarkan itu pada perkara2 yang enak dan pada berkat2 yang enak2 saja atau pada kebesaran Allah pada penciptaan alam semesta ini yang tak terselami. Tetapi bila kita melihat dari sisi lain dari KETIDAKTERBATASAN PENGETAHUAN ALLAH, maka kejadian2 yang nampaknya tidak enak bagi manusia itu juga berada di dalam KEBESARAN ALLAH itu sendiri. Contoh yang nyata adalah kasus pengkhianatan kepada Yesus oleh Yudas.

Mungkin hal ini tampak kejam di mata manusia, tetapi ini adalah bagian dari pengetahuan Allah yang tidak terselami dan tak terbatas menembus jaman ke jaman, yang kita tidak bisa menyatakan ini adalah baik atau buruk dari sisi manusia, jika kita bisa menyatakan nya ini adalah baik atau buruk, Allah adil atau tidak, maka pengetahuan Allah itu TERBATAS. Terbatas oleh apa? Tentu saja terbatas oleh pemahaman kita dan pola pikir kita yang terbatas ini.

Bila Firman Tuhan berkata “TAK TERSELAMI” maka hal itu pun BENAR2 TAK TERSELAMI..!!! Bahkan itu terlalu besar dan terlalu TAK TERSELAMI untuk dihakimi oleh kita apakah itu enak atau tidak enak, baik atau buruk, baik atau jahat.

Jadi, setiap perkataan Tuhan atau nubuatan Tuhan tidak bisa dibatalkan. Ada beberapa kasus unik dimana kita diperkenankan untuk “tawar menawar” dengan Tuhan, tetapi itupun sebenarnya Allah sudah tahu bahwa itu akan terjadi dan Allah pun sudah tahu “ending” nya bukan? Atau bernaikah kita berkata bahwa Allah belum tahu ending dari keputusan kita nantinya? Saya kira itu akan bertentangan langsung dengan ayat2 yang mengatakan “DIA adalah YANG TELAH ADA, YANG ADA, dan YANG AKAN ADA,” dan “HIKMAT DAN PENGETAHUAN NYA SUNGGUH DALAM, JALAN-JALAN NYA TAK TERSELAMI” dan “DIA ADALAH YANG AWAL DAN YANG AKHIR,” dll.

Allah menjadikan diri nya bisa berkomunikasi 2 arah dengan manusia bukan karena dia itu sama dengan kita, tetapi itu semata2 karena kasih-Nya agar kita bisa mengenal Allah yang tidak terbatas melalui keterbatasan kita. Disitulah letak kasih Allah.

Jadi sekali lagi, semua adalah dibawah kebesaran Allah dan kemahatahuan Nya yang tidak terbatas.

Oke, sekarang kita telah membahas sedikit dari perkataan Allah adalah ya dan amin. Jika kita kembali kepada kejadian “Angin Ribut” tadi, ketika Yesus berkata “marilah kita bertolak ke seberang,” maka hal itu pun PASTI AKAN TERGENAPI karena itu adalah perkataan Yesus sendiri.

Bisakah anda membayangkan bila alkitab mencatat bahwa setelah Yesus berkata “marilah kita ke seberang,” maka mereka semua berangkat menuju seberang karena perkataan Yesus itu. Lalu datanglah Taufan yang ganas, dan karam lah kapal mereka, lalu murid-murid binasa.

Aduh, itu kelihatan sangat lucu bukan? Ingat, yang kita bahas ini bukan film Mr.Bean, tapi ini adalah Firman Tuhan..!!!

  • Angin Ribut Diredakan

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

Setelah Yesus mengajak kita ke seberang, mereka mulai bertolak dan di tengah perjalanan mengamuklah taufan yang sangat dahsyat. Disitu dikatakan taufan yang sangat dahsyat dan sepertinya murid2 pun mulai kuatir dan takut kalau2 perahunya tenggelam.

Mereka melihat Yesus yang sedang tidur di buritan dan mereka membangunkan Yesus dan berteriak bahwa Yesus tidak perduli kalau mereka binasa. Nah di sinilah awal permasalahan nya.

Beberapa murid adalah nelayan yang handal, mereka pasti sering mengalami yang namanya badai, angin kencang, dan sebagainya. Tapi di sini mereka ketakutan karena mereka mengira bahwa perahunya akan tenggelam, berarti mungkin taufan ini adalah taufan yang besar sekali dan murid2 yang ahli dalam berlayar pun sudah memprediksikan bahwa perahunya akan tenggelam.

Saya kira prediksi mereka bukan lah prediksi yang main2 seperti anak kecil yang ketekutan ketika melihat ombak kecil. Mereka adalah nelayan yang terlatih dan profesional. Jadi badai itu benar2 besar dan memang bisa menenggelamkan perahu mereka. Ketakutan mereka sebagai nelayan memang benar2 beralasan.

Bahkan teriakan mereka kepada Yesus bahwa Yesus tidak perduli kalau mereka binasa itu benar2 teriakan kekalutan di tengah badai antara hidup dan mati, ini bukan persoalan biasa.

Sebagai manusia, perkataan “Engkau tidak perduli kalau kita binasa,” merupakan perkataan yang sangat beralasan. Tapi kita perlu ingat, Yesus itu bukan sekedar manusia biasa, Dia adalah TUHAN.

Ketika Yesus bangun, lalu dengan gampang nya Yesus meredakan badai itu. Tentu saja, karena Dia adalah Tuhan, bukan? Tuhan mampu dengan sekejap mata membuat badai kehidupan kita menjadi reda bukan? Dia adalah Tuhan yang ajaib bukan?

Memang itu semua benar, tetapi tunggu dulu, kita akan melihat kejadian ini dari berbagai sisi.

  • Percaya Tetapi Tidak Percaya

Setelah angin ribut diredakan oleh Yesus, dikatakan murid2 menjadi takut. Yesus menegur mereka karena mereka begitu takut dan mereka tidak percaya. Tidak percaya akan hal apa?

Pertama2 kita telah bahas bahwa perkataan Tuhan itu YA dan AMIN, PASTI TERJADI. Jadi artinya jika Yesus “berkata kita akan bertolak ke seberang,” berarti itu sungguh2 akan terjadi, pasti akan sampe seberang. Tetapi murid2 menganggap ada suatu masalah sehingga akan menghambat mereka sehingga tidak sampai seberang, dan masalah itu adalah nyata, yaitu TAUFAN.

Murid2 membangunkan Yesus dan berkata “Engkau tidak peduli kalau kita binasa.” Indikasinya uaitu bahwa murid2 sudah tahu bahwa Yesus punya kuasa untuk melakukan apa saja, mereka pasti berpikir bahwa Yesus mampu melakukan mujizat yang bisa menyelamatkan mereka karena sebelum peristiwa ini mereka telah banyak melihat Yesus melakukan berbagai mujizat. Tetapi mereka melihat Yesus cuek saja tidur dan tidak melakukan mujizat nya atau melakukan suatu keajaiban untuk menolong mereka.

Ada yang berkata, mereka sudah benar membangunkan Tuhan jika ada masalah, tetapi seharus nya bukan karena tidak percaya. Tetapi saya melihat dari sisi lain, yaitu bahwa sebenarnya mereka membangunkan Tuhan bukan karena tidak percaya, justru karena mereka percaya Tuhan mampu melakukan mujizat maka mereka membangunkan Tuhan. Jika mereka tidak percaya mereka tidak mungkin membangunkan Tuhan dan tidak akan keluar kata2 “engkau tidak peduli kalau kita binasa.” Jadi indikasinya adalah mereka percaya kepada Tuhan bisa melakukan mujizat dan menolong mereka tetapi yang menjadi masalah bagi mereka adalah KENAPA TUHAN TIDAK MENOLONG MEREKA, jika Tuhan tidak menolong mereka, mereka akan mati.

Terdengar bahwa benar jika Tuhan tidak menolong kita dalam masalah pasti kita tidak mampu melewati masalah-masalah itu. Sangat alkitabiah bukan? Tetapi kenapa lantas Yesus menegur mereka dengan kata2 ” mengapa kamu begitu takut dan tidak percaya?”

Ada 2 sisi yg akan kita lihat di sini tentang teguran Yesus kepada mereka, yaitu: “TAKUT dan TIDAK PERCAYA.”

Untuk kata “TAKUT,” kita melihat bahwa murid-murid memang takut. Kemungkinan terbesar adalah mereka TAKUT MATI bukan? Kenapa mereka takut mati? Karena mereka tidak percaya. Tidak percaya akan apa? Tidak percaya akan kuasa Tuhan? Mungkin bisa, tetapi jika kita melihat dari ayat tersebut indikasi nya tidak begitu. Kita telah membahas bahwa mereka percaya akan kuasa mujizat Tuhan bukan?

Sebelum peristiwa ini mereka telah beberapa kali melihat Yesus melakukan berbagai mujizat.

Atau memang mereka tidak percaya bahwa kuasaNya begitu besar sanggup meredakan alam yang mengamuk? Hal itu mungkin saja. Tetapi bila kita melihat dari perkataan mereka “Engkau tidak peduli kalau kita binasa,” berarti mereka percaya pada sang Guru bahwa paling tidak sang Guru bisa menyelamatkan mereka entah dengan jalan apa pun.

Jadi KETIDAK PERCAYAAN MEREKA BUKAN KARENA TIDAK PERCAYA KUASA TUHAN.

Jika memang begitu, mengapa Yesus menegor bahwa mereka TIDAK PERCAYA?

Mari kita bahas lebih dalam lagi. Pertama-tama tadi kita telah bahas bahwa Yesus mengajak mereka ke seberang, dan telah kita bahas juga bahwa perkataan Yesus pasti terjadi. Mereka sebenarnya percaya akan kuasa Yesus, tetapi setelah mereka membangunkan Yesus dan Yesus meredakan badai, Yesus menegor mereka bahwa mereka TIDAK PERCAYA.

Jadi mereka tidak percaya bukan kepada kuasa mujizat Tuhan, tetapi tidak percaya atas PERKATAAN TUHAN bahwa MEREKA AKAN KE SEBERANG.

Mereka memang mempercayai kuasa mujizat Tuhan, tetapi mereka menyepelekan perkataan Tuhan. Mereka tidak percaya bahwa firman Tuhan adalah ya dan amin.

  • Untuk Apa Mujizat Ini Diperlukan?

Kita akan mencoba masuk lebih dalam lagi.

Jika “Tidak Percaya” yang Yesus maksutkan adalah tidak percaya akan perkataan Tuhan, maka mungkin taufan itu tidak perlu ditenangkan, karena toh mereka tidak mungkin binasa, karena perkataan Tuhan adalah Ya dan Amin bukan?

Lalu kenapa Yesus tetap membuat suatu mujizat untuk meredakan Taufan itu?

Mujizat yang meredakan taufan itu mungkin tidak diperlukan mereka untuk bisa sampai seberang dengan selamat. Mujizat itu sebenarnya mungkin tidak diperlukan mereka agar mereka tidak binasa di dalam air. Tetapi yang pasti bahwa jika Tuhan melakukan mujizat itu tidak akan main main, bahwa itu memang perlu, mujizat itu diperlukan agar sesuatu tidak binasa. Sesuatu apa itu?

Sesuatu itu bukan mereka, bukan juga kapal mereka, bukan juga tempat tujuan, tetapi sesuatu itu justru adalah IMAN mereka.

Mereka berkata bahwa TUHAN TIDAK PEDULI KALAU MEREKA BINASA.

Anda bisa menangkap perkataan itu tentunya. Tuhan yang tidak perduli kalau umatnya binasa tentulah itu bukan Tuhan kita, bukan Tuhan Yesus. Kepercayaan mereka akan Tuhan yang benar hampir binasa.

Jadi mujizat di sini mungkin tidak diperlukan untuk mereka sampai ke seberang. Tetapi justru mujizat di sini diperlukan agar IMAN MEREKA AKAN KEBENARAN FIRMAN itu tidak kandas di tengah badai.

Mungkin tanpa mujizat ini pun mereka bisa sampai ke seberang dengan selamat karena perkataan Tuhan pasti terjadi. Entah kapal mereka karam atau tidak, mereka pasti akan sampai seberang.

Bisakah saudara membayangkan jika alkitab mencatat: Setelah Yesus berkata “marilah kita bertolak ke seberang”, lalu angin ribut melanda mereka dan karamlah kapal mereka lalu mereka semua binasa di dalam air bersama kapal mereka.

Hahaha, jika alkitab mencatat demikian tentulah sangat lucu dan aneh bukan?

  • Teguran Dalam Mujizat

Singkat cerita setelah Tuhan Yesus membuat mujizat, maka Tuhan Yesus pun menegur mereka karena mereka takut dan tidak percaya. Bagian ini telah kita bahas sebelum nya, maka kita akan melanjutkan melihat lebih luas dan lebih dalam lagi.

Banyak dari kita dan termasuk saya mempunyai pola pikir dan bersikap hati seperti murid-murid di dalam cerita ini. Ketika kita menghadapi suatu taufan dan gelombang permasalahan kita teringat kepada Tuhan. Oke, menurut saya sampai sini bagus, ketika kita sedang mengalami masalah kita ingat Tuhan. Itu hal yang bagus dan alkitabiah. Tetapi ketika kita mengingat Tuhan, apa nya yang kita ingat?

Kebanyakan kita akan mengingat Tuhan yaitu di dalam kuasa mujizat nya yang sanggup menyelesaikan setiap permasalahan kita. Dan dengan buru-buru kita berdoa dan “membangunkan Tuhan” agar Tuhan membuat mujizat agar monolong kita. Kita berpikir jika Tuhan tidak membuat mujizat maka kita nanti akan binasa dengan masalah ini, lalu ketika Tuhan tidak membuat mujizat sesegera mungkin seperti yang kita harapkan, kita akan berpikiran bahwa “Tuhan tidak peduli kalau kita binasa.” Seperti murid-murid tadi bukan?

Lalu yang lebih bahaya lagi, ketika Tuhan membuat mujizat karena iman kita hampir runtuh maka kita akan berpikir bahwa Tuhan telah menolong kita dan menjawab doa kita, dan karena Tuhan menjawab doa kita dengan mujizat yang menakjubkan maka kita beranggapan bahwa kita benar di mata Tuhan.

Hati-hati saudaraku, tidak semua mujizat terjadi karena kita “benar di mata Tuhan.” Tidak semua mujizat terjadi karena Tuhan senang akan sikap kita dan sikap hati kita. Tidak semua mujizat terjadi karena kita telah “dewasa” di dalam Tuhan. Mujizat yang dialami oleh para murid ini adalah MUJIZAT YANG BESAR, TETAPI ADA TEGURAN DI BALIK ITU.

Banyak dari kita tidak mau mendengarkan mau nya Tuhan, tidak mau mencari kehendak Tuhan, tidak mau bertambah dewasa di dalam Tuhan. Sehingga ketika kita mengalami badai dan taufan kita tidak bertanya dan tidak mencari kehendak Tuhan dibalik semua itu. Kita hanya buru-buru “mengimani” kuasa mujizat Tuhan, dan menyuruh Tuhan melakukan nya dengan sekehendak hati kita.

Yang lebih hebatnya lagi, setelah Tuhan membuat mujizat lalu menegur kita karena kesalahan kita, maka kita sudah tidak mendengarNya lagi. Kita sudah terlalu larut dengan kesenangan kita akan mujizat-mujizat Tuhan atas hidup kita. Kita tidak mendengar suara hati-Nya lagi, tidak mendengar kebenaran yang dari Dia.

Ingat saudaraku, Tuhan kita bukanlah seperti dewa-dewa yang disembah-sembah karena kita ingin mendapatkan perlindungan atau kekayaan atau kesehatan semata-mata dari mereka. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Dia adalah pencipta dari segalanya. Dia adalah Raja di atas segala raja yang harus kita perlakukan dan kita sembah sebagaimana Dia adalah Allah yang adalah Tuan kita. Dia juga adalah Bapa kita yang dengan kasih Nya kita bisa melakukan suatu hubungan yang harmonis dengan Pencipta kita.

Seringkali Tuhan melakukan mujizat, dan dibalik mujizat itu ada teguran Tuhan. Tetapi kita mengabaikan teguran2 itu dan merasa senang sendiri dan tidak menghiraukan suara Tuhan lagi. Kita sibuk dengan mangucap syukur kepada Tuhan dan triakan2 ucap syukur kita itu lebih kencang dari suara teguran Tuhan, triakan2 haleluya karena mujizat Tuhan lebih kencang daripada suara teguran dan kebenaran dan pelajaran yang Tuhan berikan dibalik itu semua.

Bahkan banyak orang setelah mendapatkan mujizat atau jalan keluar mereka merasa dirinya sudah hebat karena dekat dengan Tuhan, setiap mujizat dan jalan keluar mereka anggap sebagai kesenangan hati Tuhan.

Hati2 saudaraku, kita perlu kembali kepada kebenaran. Apapun yang terjadi, ada mujizat ataupun tidak ada mujizat, kebenaran tetaplah suatu kebenaran. Jangan sekali2 mengukur nya dengan mujizat.

Memang ada mujizat atau jalan keluar dari berbagai permasalah kita yang merupakan solusi dari kebenaran. Maka dari itu sekali lagi kita perlu kembali kepada Firman Tuhan, kepada Kebenaran sejati, untuk mempelajari darimana sumber dan maksut Tuhan atas mujizat atau jalan keluar yang telah kita terima.

Jika dibalik mujizat dan jalan keluar yang kita terima ada suatu pembelajaran yang kita harus ambil kaena kita harus menjadi lebih dewasa lagi, maka sesungguhnya permasalahan kita tidak selesai sampai di situ saja.

Setelah angin ribut diredakan murid2 masih akan mengalami permasalahan yang sama sampai mereka menjadi lebih dewasa. Setelah angin ribut diredakan mereka akan mengalami banyak hal permasalahan lagi dan secara terus menerus sampai permasalahan yang sesungguh nya terlewati, karena….

Permasalahan yang sesungguhnya adalah bukan pada badai, tetapi permasalahan yang sesungguh nya adalah ada pada diri mereka sendiri. Jika mereka sedikit lebih dewasa maka badai itu bukan lah suatu permasalahan.

  • Semakin Dewasa di Dalam Iman

Setelah mujizat dalam badai ini berlalu, murid2 masih harus mengalami berbagai2 proses pendewasaan di dalam diri mereka masing2. Kita akan sedikit melompat ke dalam kehidupan para rasul setelah banyak hal yang mendewasakan terjadi dalam diri mereka.

Yakobus 1:2-8

1:2Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan

1:3sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

1:5Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

1:6Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

1:7Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

1:8Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Saat kehidupan para rasul, orang kristen diburu dan banyak yang disiksa, dibunuh dan diperlakukan secara kejam oleh penguasa. Yakobus memandang segala kejadian itu adalah suatu pencobaan yang harus disikapi secara dewasa dengan sudut pandang yang dewasa.

Yakobus menganggap pencobaan2 dan masalah2 di dalam hidup nya dan hidup orang kristen itu adalah merupakan suatu kebahagiaan.

Ini adalah salah satu contoh sikap orang yang lebih dewasa. Tadinya mengalami badai di kapal langsung meminta mujizat. Melihat Yesus tidur tidak melakukan apa2 mereka malah menyebut Yesus tidak perduli kalau mereka binasa. Tetapi setelah mengalami banyak sekali proses kini Yakobus telah mempunyai suatu pandangan yang lebih dewasa dengan menganggap semua permasalahan ini adalah suatu kebahagiaan.

Kenapa Yakobus menganggap nya sebagai suatu kebahagiaan? Marilah kita melihat sisi pemikiran manusia yang semakin dewasa rohani.

  • Ketekunan dan Buah Yang Matang

Yakobus 1:2-4

1:2Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan

1:3sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Ayat2 diatas menunjukan pemikiran Yakobus tentang pencobaan dan masalah2.

Tadinya murid2 Yesus menganggap bahwa masalah atau badai atau pencobaan atau persoalaan apapun juga sebagai persoalan hidup/masalah yang bisa membinasakan mereka.

Badai yang melanda perahu mereka adalah masalah yang bisa membuat mereka binasa/mati. Sama dengan halnya pencobaan orang2 kristen di masa rasul2 ini, mereka diburu dan banyak yang dibunuh dan diperlakukan dengan tidak manusiawi. Bukankah 2 masalah ini adalah sama2 masalah hidup dan mati?

Dua masalah yang sama, tetapi cara pandang dan sikap Yakobus sekarang yang berbeda.

Dahulu sewaktu mereka di dalam perahu mereka menganggap badai itu adalah masalah yang akan mambinasakan hidup mereka. Tetapi sekarang sewaktu mereka di dalam perahu kekristenan Yakobus menganggap badai itu adalah suatu kebahagiaan.

Yakobus menerangkan bahwa pencobaan ini adalah UJIAN IMAN. Dahulu para murid tidak sadar bahwa badai sebenarnya adalah ujian iman, apakah di dalam badai yang dapat membuat kapal mereka kandas mereka tetap percaya kepada Firman Tuhan? Ternyata Yakobus mempelajari hal ini dengan baik. Sekarang bagi Yakobus problema ini adalah sebuah UJIAN IMAN yang akan memberikan keuntungan kepada kita, ujian iman ini akan menghasilkan ketekunan, dan ketekunan kita akan menghasilkan buah yang matang. Dan dikatakan dalam ayat 4 bahwa kita akan menjadi sempurna dan utuh.

Apa maksutnya buah yang matang, sempurna dan utuh?

Yakobus 1:12

1:12Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Kita menjadi sempurna dan utuh berarti kita menerima kehidupan yang kekal. Itulah yang dimaksutkan Yakobus.

Didalam surat lain, Paulus juga menerangkan nya dengan bagus.

Roma 5:1-6

5:1Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

5:2Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

5:3Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

5:6Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

Banyak orang menggunakan ayat 1 dan 2 sebagai bahan untuk berkata dan berpikir bahwa ikut Yesus itu enak. Di dalam ayat 1 dikatakan kita akan “hidup damai sejahtera dengan Allah”, di ayat 2 lebih-lebih lagi dikatakan bahwa “di dalam kasih karunia Allah, kita akan berdiri dan bermegah dan akan menerima kemuliaan Allah”. Wauwww… kedengaran nya sungguh indah bukan? Bahkan sebagaian besar orang-orang kristen akan menjadi bergairah dan semangat jika mereka mendengar kotbah ayat-ayat ini.

Ayat-ayat ini tidaklah salah, ayat-ayat ini 100% benar karena ini adalah Firman Tuhan. Tapi hati-hati saudara, kita jangan hanya menggunakan ayat sepotong-sepotong saja demi memuaskan keinginan hati kita. Jangan pernah kita mengartikan ayat semau-mau kita untuk membernarkan diri kita sendiri. Hati-hati…!!!! Apakah benar hanya itu yang dimaksutkan Rasul Paulus ketika menuliskan ayat-ayat ini? Coba kita periksa ayat-ayat di bawahnya.

5:3Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

5:6Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

Ternyata bukan hanya itu yang dimaksut Firman Tuhan ini, bukan hanya hidup yang seolah-olah enak dan nyaman seperti yang kebanyakan orang kira. Jika kita hanya memakai ayat 1 dan 2, maka bisa disalahartikan terbalik dari maksut keseluruhan nya.

Paulus menerangkan bahwa kita memang bermegah di dalam Tuhan karena kasih Allah melalui Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus kita telah berdamai dengan Allah. Tetapi kita juga bermegah di dalam kesengsaraan kita. Karena melalui kesengsaraan yang memang diijinkan Allah, maka kemegahan kita di dalam kasih Yesus barulah akan tampak dengan sebenarnya.

Melalui kesengsaraan kita akan menjadi tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan dan pengharapan kita tidak akan mengecewakan karena Kristus telah mati bagi kita. Itu adalah jaminan pengharapan kita.

Disini Paulus menerangkan bahwa sebenarnya KEMEGAHAN KITA DI DALAM KRISTUS DAN KESENGSARAAN ADALAH SATU PAKET. Beberapa orang Kristen menganggap kesengsaraan adalah bagian yang harus diteking di dalam nama Yesus. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan hal yang sebaliknya, yaitu bahwa kesengsaraan adalah bagian dari nama Yesus. Jika kita menengking segala permasalahan yang akan mendewasakan kita di dalam nama Yesus, bukankah itu sama saja kita menengking iman kita sendiri? Atau memang kita belum mengerti? Jika kita belum mengerti, maka sekaranglah saatnya untuk mengerti.

Mari kita lihat pengalaman lain dari Rasul Paulus supaya kita lebih mengerti apa yang dimaksutkan dari tulisan Rasul Paulus ini.

11:23Apakah mereka pelayan Kristus? –aku berkata seperti orang gila–aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.

11:24Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan,

11:25tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.

11:26Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.

11:27Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,

11:28dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.

Ini adalah sebagian kecil dari banyak sekali penderitaan yang Paulus alami di dalam mengikut Kristus dan di dalam melayani Kristus. Jauh sekali dengan anggapan saya dulu ketika saya belum mengerti, saya mengira ikut Yesus itu enak, diselamatkan, diampuni dosanya, hidup enak, minta kaya melebihi orang-orang yang tidak mengenal Allah karena yaahhh…masa sih anak Tuhan kok kalah diberkati daripada orang yang tidak mengenal Tuhan, mau ini itu ada tinggal minta karena kita anak Raja, punya pesawat jet pribadi seperti beberapa pendeta besar yang kaya raya, punya istri cantik seperti Sarai nya Abraham karena berkat Abraham harus sampai kepada bangsa-bangsa, gak perlu menjaga pola makanan…tiap hari makan yang enak enak terus karena kalo sakit kolesterol tinggi tinggal berdoa minta mujizat dan sembuh karena bilur Yesus pasti menyembuhkan saya, mati masuk surga dengan cara diangkat oleh kereta surga seperti Elia, atau yang tiba-tiba diangkat ke surga dan hilang seperti Henok.

Dulu saya berpikir jika mau kehidupan yang seperti itu caranya cuman satu, yaitu bayar harga dan hidup semakin dekat dengan Tuhan.

Tetapi semakin saya mendekat pada Tuhan, semakin saya membaca Firman Tuhan, semakin saya melihat kedalaman hati Tuhan, semua nya jadi rontok satu per satu. Firman Tuhan mengajarkan bahwa orang-orang yang dekat dengan Tuhan di dalam perjanjian baru tidak lah demikian. Di dalam kehidupan perjanjian baru kita dituntut untuk berjuang di dalam iman. Kebanyakan dari para rasul mati tidak diangkat seperti Henok, Elisa, dll. Mereka ada yang di goreng, dipenggal, disalib terbalik, digergaji, dilempari dengan batu.

Lama kelamaan semua pikiran-pikiran tentang hidup nikmat diganti dengan pengenalan akan Allah, keinginan hati Allah akan masa perjanjian baru seperti yang Firman Tuhan katakan.

Saya bukan anti mujizat. Siapakah saya sehingga saya memutlakkan sesuatu yang adalah hak Allah. Sampai saat ini kehidupan yang saya jalani adalah setapak demi setapak dari kasih karunia Allah, mujizat-mujizat yang dari Tuhan pun saya alami, tetapi saya berdoa agar itu semua tidak menggantikan posisi Allah sendiri, tidak menggeser posisi utama Firman Kebenaran.

Jika kita kembali pada peristiwa angin ribut yang dialami oleh murid-murid, angin ribut datang, kapal nya belum karam mereka sudah teriak-teriak bahkan berkata “Yesus tidak peduli kalau kami binasa”. Tapi kita lihat dari pengalaman Rasul Paulus, Paulus mengalami 3 kali karam kapal, dan pernah sehari semalam terapung-apung di laut. Kok Paulus tidak minta mujizat? Misalpun Paulus minta mujizat, dia tidak pernah mengumpat dengan berkata bahwa Tuhan tidak peduli kalau dia binasa bukan? Dan masih banyak lagi penderitaan-penderitaan yang dialami Paulus dan Paulus menganggap nya sebagai suatu KEMEGAHAN, dia boleh bermegah di dalam penderitaan. Karena Kristus juga menderita.

Jaman para Rasul, orang Kristen memang diburu-buru dan banyak yang disiksa dan dibunuh. Hal mengerikan semacam itu pun mereka menganggap nya sebagai suatu kehormatan, ujian iman, kemegahan, kebahagiaan. Karena mereka tahu bahwa pengharapan mereka tidak akan sia-sia, karena melalui itu semua justru iman kristen mereka semakin dinyatakan, justru melalui itu semua mereka akan semakin kuat di dalam iman kepada Kristus, semakin dibentuk oleh Tuhan semakin hari semakin memiliki karakter Kristus. Dan pada akhirnya adalah kehidupan kekal. Mereka sadar bahwa semua penderitaan yang mereka alami akan menuntun mereka ke dalam kehidupan kekal yang sempurna.

Tuhan akan menuntun orang-orang yang percaya kepada Yesus dengan segala caranya yang ajaib, dengan segala cara yang tampaknya enak maupun tidak enak menuju kepada keselamatan yang sempurna.

Jangan disalah mengerti, Firman Tuhan juga tidak mengajarkan agar kita mencari-cari masalah. Jika kita mendapatkan suatu masalah dari kesalahan kita sendiri tentulah kita juga akan mengalami resiko nya. Tetapi pada intinya adalah apapun permasalahan yang terjadi, kita harus melihat apakah yang Tuhan mau dibalik semua nya itu. Jangan sedikit-sedikit kita minta mujizat, sedikiti-sedikit minta mujizat, jika mujizat sudah terjadi maka kita merasa bahwa kita sudah jadi orang yang paling dekat dan paling benar di mata Tuhan. Belum tentu saudaraku…!!! Tidak ada yang salah dengan mujizat, karena itu adalah hak Tuhan, tetapi masalahnya adalah ada di dalam diri kita masing-masing.

Seperti Ayub mendapat pencobaan dari iblis yang memang diijinkan Tuhan, meskipun ini semua bukan dari hasil kesalahan Ayub tetapi toh Ayub harus belajar banyak dari semua kejadian-kejadian yang menimpa dia. Ayub tidak mengerti kenapa semua ini menimpa dia, tetapi dibalik ini semua ternyata ini adalah ujian iman untuk Ayub. Dan pada akhir nya dia juga harus belajar mengenal Allah lebih lagi. Melalui semua pencobaan dan kesengsaraan yang Ayub jalani Ayub mendapatkan pengenalan akan Allah yang lebih dalam lagi.

Ayub 42:5

42:5Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

Segala sesuatu ada maksutnya, segala sesuatu yang diijinkan Tuhan pasti akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Jadi janganlah kita terburu-buru menganggap semua penderitaan kita adalah suatu hal yang bukan dari Tuhan dan harus ditengking dalam nama Yesus, kalo perlu didatangkan pendeta yang sakti dari luar negeri. Marilah kita belajar dari Firman Tuhan agar lebih bijaksana dalam memandang dan menyikapi segala penderitaan kita.

Segala sesuatu yang terjadi haruslah kita kembalikan kepada Firman Tuhan, kita harus cek kepada Firman Tuhan apa apa saja yang harus kita benahi, apa apa saja yang harus kita pelajari dibalik itu semua yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, supaya hidup kita senantiasa berjalan di dalam terang Firman Tuhan sampai pada akhirnya.

GOD BLESS…

DAN-DAN

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: