Saya Yang Hutang, Yesus Yang Bayar!


Di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama banyak kita temui peraturan-peraturan tentang hutang/pinjam-meminjam. Yang paling sering disebut-sebut orang Kristen sekarang-sekarang ini adalah peraturan tentang penghapusan hutang, karena di tahun-tahun penghapusan hutang ini keadaan materi kita akan dibalikkan Tuhan kepada kelimpahan, hutang-hutang kita akan dilunaskan Tuhan, dll.

Mari kita lihat beberapa ayatnya dan membahasnya.

Keluaran 22:25-27

22:25Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.22:26Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam,22:27sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya–pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.”

Ulangan 15:1-2

15:1“Pada akhir tujuh tahun engkau harus mengadakan penghapusan hutang.15:2Inilah cara penghapusan itu: setiap orang yang berpiutang harus menghapuskan apa yang dipinjamkannya kepada sesamanya; janganlah ia menagih dari sesamanya atau saudaranya, karena telah dimaklumkan penghapusan hutang demi TUHAN.

Ini adalah sedikit ayat mengenai tatacara atau hukum taurat mengenai hutang/pinjam-meminjam. Jadi masyarakat Israel dari dulunya sudah terbiasa dengan hal-hal tentang peraturan tentang hutang atau pinjam-meminjam.

Lalu apa artinya untuk kehidupan kita di perjanjian baru? Apakah ini juga ada hubungannya dengan hutang-hutang kita di masa sekarang? Apakah ayat-ayat Taurat ini juga ada hubungannya dengan hukum kehidupan perekonomian orang-orang Kristen di masa sekarang?

 

 

  • Hutang Apa? Bayarnya Pakai Apa?

Lukas 11:4dan ampunilah kami akan dosa(Hamartia) kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah(Opheilo) kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

Disini Lukas memakai 2 kata(yang diberi tanda tebal). Kata DOSA, dalam bhs Yunaninya adalah memakai kata HAMARTIA. Sedangkan kata BERSALAH, memakai kata OPHEILO.

HAMARTIA artinya:

1. Dosa, dapat menunjuk perbuatan itu sendiri, sifat atau kondisi melawan kebenaran, suatu kuasa, atau akibat dari perbuatan itu (Saya ambil dari salah satu Kitab Interlinear Yunani).

2. Sin, sinful, offense. To be without a share in. To miss the mark. To err, be mistaken. To miss or wander from the path of uprightness and honour, to do or go wrong. To wander from the law of God, violate God’s law, etc (Saya ambil dari AV).

Saya sendiri menyimpulkan bahwa dosa yang dimaksut disini adalah: Meleset dari kebenaran/hukum Allah, meleset dari perintah Allah. Jadi jika Allah memerintahkan kita melakukan A, maka kita melakukan A'(A aksen) atau bahkan B atau bahkan berlawanan dengan A sendiri.

OPHEILO artinya:

1. Berutang, berkewajiban menepati, harus, bersalah (Saya ambil dari salah satu Kitab Interlinear Yunani)

2. Ought, owe, be bound, be(one’s) duty, be a debtor, be guilty, be indebted, misc. To owe. To owe money. be in debt for. That which is due, the debt (Saya ambil dari AV).

Jadi kesimpulan saya bahwa “bersalah” yang dimaksut Lukas di sini adalah: Berhutang. Atau paling tidak, ada hubungannya dengan hutang akan sesuatu.

Jadi jika saya simpulkan, Lukas ini sedang berkata: Ampunilah dosa kami(bebaskanlah kami dari dosa kami) seperti/secara kami membebaskan orang yang berhutang(bersalah) kepada kami.

Pertanyaan yang timbul biasanya adalah, mengapa disini “kesalahan” dikait-kaitkan dengan “hutang?”

Beberapa Agama dan kepercayaanmpunyai paham bahwa dosa adalah hutang. Hutang kepada Tuhan yang harus dibayar kepada Tuhan juga, jika tidak dibayar maka tidak akan mendapatkan keselamatan dari Tuhan. Pandangan ini juga dianut oleh agama-agama semitik pada umumnya, termasuk agama Yahudi(agama Musa) dan juga Kristen.

Nah, jika kita berdosa/tidak melakukan kehendak Allah/meleset melakukan perintah hukum Allah, maka hutang kita kepada Allah adalah; MELAKUKAN KEHENDAK/PERINTAH/HUKUM ALLAH. Jadi sekali lagi, kita berhutang melakukan perintah Allah. Semua manusia berhutang hal itu kepada Allah, karena semua manusia selalu gagal melakukan perintah Allah dengan sempurna.

Jika kita hutang kepada seseorang sebesar Rp.1000 maka kita juga harus mengembalikan sebesar Rp.1000 atau mengembalikan dengan sesuatu yang bernilai sama. Jadi, jika kita berhutang “melakukan perintah Allah,” maka supaya hutang kita lunas sesuai dengan nilainya, maka kita juga harus membayarnya dengan “melakukan perintah Allah.”

Jadi kita mempunyai cara untuk membayar hutang kita kepada Allah dengan “melakukan perintah-perintah Allah.” Perintah-perintah Allah yang harus kita lakukan itu diturunkan Allah di dalam Taurat, dirangkum di dalam 10 Perintah Allah.

Keluaran 20:3-17

20:3Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.20:4Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.20:5Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,20:6tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.20:7Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.20:8Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:20:9enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,20:10tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.20:11Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.20:13Jangan membunuh.20:14Jangan berzinah.20:15Jangan mencuri.20:16Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.20:17Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Dari 10 hukum ini, Yesus merangkumnya lagi menjadi istilah “KASIH.” Inti dari hukum Taurat adalah MENGASIHI, mengasihi siapa? MENGASIHI ALLAH DAN MANUSIA. Itu adalah perintah Tuhan untuk kita lakukan.

Matius 22:36-40

22:36“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”22:37Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.22:38Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.22:39Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.22:40Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Roma 13:8-10

13:8Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.13:9Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!13:10Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Jadi jika kita mau melakukan kehendak Tuhan, maka kita harus mengasihi Allah dan sesama dengan sempurna. Karena manusia berhutang melakukan kehendak Allah, maka manusia harus membayar hutangnya dengan melakukan kehendak Allah, yaitu mengasihi. Jadi kita bisa membayar hutang/dosa kita dengan mengasihi Tuhan dan sesama.

 

 

  • Antara Taurat, Dosa dan Maut

1Korintus 15:56Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.

Surat 1Korintus 15:56 diatas menerangkan bahwa, MAUT/KEMATIAN(mati disini saya artikan sebagai mati kekal/putus hubungan dengan Allah) mempunyai senjata/sengat. Senjatanya adalah DOSA. Jadi jika orang berdosa/berhutang terhadap Allah maka orang itu akan mengalami maut/putus hubungan dengan Allah, biasa yang sering disebut sebagai kematian kekal. Mengapa demikian? Karena selama manusia berhutang dengan Allah, manusia tidak dapat berdamai dengan Allah. Maka dari itu agar manusia bisa berdamai/mempunyai hubungan baik dengan Allah, manusia harus melunasi hutangnya dahulu.

1korintus 15:56 diatas juga menerangkan bahwa, kuasa dosa ialah HUKUM TAURAT. Jadi yang berkuasa membebaskan manusia dari dosa adalah HUKUM TAURAT, jadi mau tidak mau manusia harus melakukan Hukum Taurat agar terebas dari hutang/dosa. Mengapa Hukum Taurat bisa menjadi kuasa dosa? Karena melakukan Taurat/kehendak Allah/kasih adalah hutangnya manusia yang harus dilunasi. Maka dari itu jika orang bisa melakukan Hukum Taurat/kasih, maka dia berhasil membayar hutangnya, jika manusia sudah membayar hutangnya maka dia tidak lagi BERDOSA/BERHUTANG, jika manusia sudah tidak lagi BERDOSA/BERHUTANG maka otomatis konsekuensi dari hutang juga hilang. Konsekuensi dari hutang itu adalah MAUT.

 

 

  • Daftar Hutang Yang Tidak Bisa Dibayar

Setelah tahu rumusnya, maka kita bisa membayar hutang/dosa kita dengan cara menjalankan perintah Tuhan. Tetapi sayangnya Alkitab mencatat, tidak ada manusia yang bisa menjalankan hukum Allah/kasih dengan sempurna. Nah loh? Sama aja bohong dong kalau gitu? Kalau Tuhan sudah tahu bahwa manusia tidak bisa melakukan hukum Taurat, lalu buat apa Tuhan memberikan Hukum Taurat kepada manusia?

Roma 3:19-20

3:19Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.3:20Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.

Roma 5:20-21

5:20Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,5:21supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Kitab Roma 3 dan Roma 5 diatas menerangkan bahwa, tidak ada manusia yang bisa melakukan hukum Taurat. Roma 3:19-20 menerangkan bahwa Taurat diberikan supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.

Roma 5:20-21 menerangkan bahwa hukum Taurat diberikan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak. Dengan berlimpahnya pelanggaran/dosa, maka kasih karunia Allah akan semakin berlimpah-limpah, kasih dari Tuhan Yesus. Apa artinya? Kesimpulan saya yaitu, hukum Taurat diberikan supaya manusia tahu bahwa manusia tidak dapat melakukannya. Taurat adalah daftar hutang kita yang harus kita bayar/penuhi untuk membayar hutang kita. Lalu jika Tuhan tau kita tidak dapat membayar hutang kita, mengapa Tuhan memberikan daftar hutang itu kepada kita? Supaya kita menyadari bahwa kita butuh kasih karunia dari Tuhan. Roma 5:21 diatas menerangkan bahwa kasih karunia itu diberikan oleh Yesus Kristus.

Jika kita tidak bisa membayar hutang kita kepada Allah maka kita akan diseret oleh maut/kematian kekal. Yang kita butuhkan adalah kehidupan kekal. Maka dari itu Roma 5:21 diatas menerangkan bahwa; kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus.

Apa yang dimaksut “hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus?”

Artinya yaitu, oleh kasih karunia-Nya kita diberikan hidup kekal, dibebaskan dari maut yang merupakan konsekuensi dari hutang kita kepada Allah.

Jika memang benar begitu, bagaimana perhitungannya dengan Allah?

 

 

  • Siapa Yang Hutang, Siapa Yang Bayar?

Pernah ada pertanyaan yang datang kepada saya. Kenapa Tuhan Yesus harus melakukan kehendak Bapa di bumi ini? Kenapa Yesus harus matinya dengan cara tidak enak seperti itu, kok tidak mati normal saja atau mati tua, toh mati juga?

Yohanes 4:31-34

4:31Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.”4:32Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”4:33Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?”4:34Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Yohanes 4:34 berkata bahwa Yesus sedang melakukan misi dari Bapa, sedang menyelesaikan misi-Nya. Misinya apa? Misi-Nya adalah “Melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.”

Siapakah yang seharusnya melakukan kehendak-Nya? Manusialah yang seharusnya melakukan kehendak-Nya. Manusia gagal melakukan kehendak-Nya dan berhutang melakukan kehendak-Nya. Apakah Yesus berhutang melakukan kehendak Bapa? TIDAK. Jika Dia tidak berhutang melakukan kehendak-Nya, mengapa Yesus mempunyai misi melakukan kehendak-Nya?

Jika anda makan di restoran, bill tagihan-pun datang. Ketika kita membuka dompet, tidak ada uang di dompet kita. Kita tidak mampu bayar. Datanglah seseorang yang TIDAK MAKAN, namun memberikan uang kepada pihak restoran dengan jumlah yang harusnya kita yang membayarnya karena kita yang makan. Jika demikian, jika kita tidak membayarpun, maka secara matematis di dalam pembukuan restoran akan balance. Artinya secara langsung maupun tidak langsung orang tersebut yang membayar makana kita.

Yesus yang tidak berhutang, melakukan kehendak Bapa yang seharusnya kitalah yang melakukannya, karena kita yang hutang. Itu artinya, KITA YANG HUTANG, YESUS YANG BAYAR. Itu sebabnya Roma 5:21 tadi menerangkan bahwa hidup kekal diberikan oleh Yesus. Hal itu bukan berarti Yesus seenaknya memberikan hidup kekal kepada kita. Yesus memberikan hidup kekal kepada kita dengan cara membayar hutang kita, sehingga kita lolos dari maut dan mendapatkan kehidupan kekal.

Mengapa Yesus harus mati tidak enak? Bukankah Dia bisa saja melakukan kehendak Bapa sampai mati tua yang wajar? Pertanyaan itu pernah datang kepada saya, ada beberapa alasan yang saya ajukan, salah satu alasan yang sesuai dengan topik kita ini adalah:

Yohanes 15:13Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Yesus sedang membayar hutang kita dengan jalan melakukan perintah Bapa, perintah-Nya yang sudah diberikan kepada kita yaitu tercantum di dalam Taurat. Telah kita bahas bahwa rangkuman dari Taurat itu adalah KASIH. Jadi Yesus harus melakukan kasih dengan sempurna. Sayangnya, Yohanes 15:13 mencatat bahwa kasih yang sempurna yang Yesus lakukan itu hanya bisa dibuktikan lewat pemberian nyawa untuk yang dikasihinya. Jadi mau tidak mau memang Dia harus melalui kematian seperti itu. Yesus harus membuktikan kasih yang sejati, Apakah Dia tetap mengasihi manusia ketika manusia yang dikasihi-Nya menolak dan menyiksa Dia, bahkan menginginkan nyawa-Nya.

 

 

  • Aplikasi dan Arti Rohani yang Meleset

Telah kita ketahui bahwa masyarakat Israel pada umumnya telah terbiasa dengan hukum hutang-piutang, bahkan mereka telah terbiasa dengan kegiatan TAHUN PEMBEBASA HUTANG (telah kita baca di dalam Ulangan 15:1-2 tadi diatas). Di dalam hukum taurat hutang-hutang akan dibebaskan secara gratis di dalam tahun penghapusan hutang tersebut. Pembebasan hutang secara FREE di dalam hukum Taurat, misal di dalam tahun pembebasan hutang, adalah gambaran akan pembebasan dosa(yang adalah hutang) secara FREE oleh Yesus Kristus.

Ketika Yesus mengajarkan doa Bapa Kami seperti yang Lukas catat diatas, maka Lukas sebenarnya sedang menyampaikan bahwa kita meminta ampun/pembebasan atas dosa-dosa/hutang kita kepada Allah secara FREE/GRATIS seperti yang telah biasa bangsa Yahudi lakukan, yaitu membebaskan hutang sodara-sodaranya secara FREE/GRATIS. Hanya di dalam Yesuslah dosa kita bisa dihapuskan secara FREE/GRATIS.

Jadi hari raya pembebasan hutang di dalam Alkitab Perjanjian Lama itu sebenarnya mempunyai makna rohani yang lebih dalam dari sekedar hutang duit/harta. Tetapi mempunyai makna bahwa hutang/dosa kita akan dilunaskan dengan cara FREE oleh Sang Penebus yaitu Yesus Kristus.

Jika demikian, menurut saya, alangkah dangkalnya jika kita mengaplikasikan hari-hari pembebasan di dalam Perjanjian Lama secara materi juga. Bahkan menurut saya, hal demikian cenderung salah mengaplikasikan atau salah mengartikan maksut dari Alkitab sendiri. Banyak yang mengajarkan bahwa kita sekarang juga akan mengalami tahun-tahun pembebasan hutang, tahun-tahun Yobel,  dengan cara hutang-hutang kita dibebaskan, kita akan mendapatkan berkat-berkat jasmani dari Tuhan, dll. Menurut pandangan saya, pengajaran seperti ini tidak adil dan terkesan hanya main comot/ambil sedikit ayat saja untuk membenarkan pemahaman pengajaran-pengajaran seperti ini. Jika mau jujur di dalam membaca Alkitab, maka banyak juga aplikasi yang tidak kita terapkan di dalam tahun-tahun pembebasan hutang. Di dalam tahun pembebasan hutang, orang Israel yang memberi pinjaman harus membebaskan piutangnya itu, harus memberkati dan saling membantu orang miskin yang tidak mampu mengembalikan hutangnya. Jadi yang mengembalikan hutang bukan Tuhan, tetapi orang Israel sendiri. Itu adalah perintah Tuhan. Pengajaran jaman sekarang ini banyak saya jumpai hanya mengambil sedikit ayat yang enak saja, yang diambil hanya ayat-ayat yang berkata kita akan dibebaskan dari hutang dan mendapat kelimpahan berkat, tetapi mengapa ayat perintah harus membebaskan hutang sesamanya tidak dipakai juga sehingga orang Kristen yang meminjamkan uang kepada sesamanya tidak diharuskan membebaskan hutang sesamanya? Jika punya hutang maunya dibayar/dilunasi oleh Tuhan, tetapi jika memberikan hutang kepada orang apakah mau membebaskan orang yang meminjam?

Perlu diingat bahwa di dalam Perjanjian Lama Tuhan hanya membuat sistem yang harus dijalankan, salah satu sistem itu adalah pembebasan hutang. Jadi yang wajib membebaskan hutang adalah orang yang meminjamkan uang, bukan Tuhan. Tuhan memang bisa membuat mujizat sehingga hutang-hutang kita lunas, tetapi jika kita memakai ayat ini sebagai iming-iming/janji-janji kepada orang bahwa Tuhan pasti akan melunaskan hutang kita di tahun-tahun pembebasan hutang, menurut saya itu adalah memanipulasi Firman Tuhan.

Jika dilihat secara keadaan waktu Perjanjian Lama, maka di tahun-tahun pembebasan hutang ini adalah keuntungan bagi orang-orang miskin. Orang-orang kaya tentulah mengalami pengeluaran karena harus membebaskan sesamanya yang berhutang kepada dia. Bahasa gaulnya adalah, orang miskin untung, orang kaya tekor. Oleh sebab itu Yesus berkata bahwa “kepada orang miskin DIBERITAKAN KABAR BAIK,” Yesus tidak berkata “kepada orang miskin DIBERIKAN HARTA BANYAK.”

Jika kepada orang miskin DIBERITAKAN KABAR BAIK/INJIL KESELAMATAN dan bukannya DIBERIKAN HARTA BANYAK, maka menurut pandangan Yesus orang miskin adalah orang yang TIDAK MUNGKIN SELAMAT atau MISKIN SEHINGGA TIDAK MAMPU BAYAR HUTANGNYA/DOSANYA, alias MISKIN ROHANI, alias MISKIN MELAKUKAN KEBENARAN, karena miskin/tidak bisa melakukan kebenaran, jadi tidak bisa bayar hutang kepada Allah.

Luk. 4:18“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku

Luk. 7:22Dan Yesus menjawab mereka: “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.

Oleh karena misi Yesus adalah menyampaikan KABAR BAIK KEPADA ORANG-ORANG MISKIN, maka Yesus berkata “berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah.”

Mat. 5:3Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Oleh karena orang yang miskin rohani (tidak mampu membayar hutang kepada Allah agar memperolah keselamatan) diberikan kabar baik Injil alias diberik keselamatan gratis alias dilunasi hutangnya kepada Allah sehingga bisa beroleh hidup yang kekal, maka Yesus berkata “berbahagialah orang yang miskin…”

Luk. 6:20Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.

Ada yang bertanya kepada saya mengenai pendapat saya tentang hal ini. Pertanyaannya adalah “sekarang kan kita adalah Israel-Israel rohani, jadi apakah tidak mungkin kita mendapatkan berkat rohani di tahun-tahun pembebasan hutang tersebut?”

Tentang hal seperti ini saya berpendapat. Kenapa kita sekarang tidak lagi memotong domba seperti yang dilakukan Perjanjian Lama? Kebanyakan menjawab “karena Yesus sudah mati untuk kita, potong domba itu arti rohaninya sudah digenapi di dalam kematian Yesus.” Saya balik bertanya, jika demikian arti rohani dari pembebasan hutang juga sudah digenapi di dalam kematian Yesus juga, karena hutang uang di dalam Perjanjian Lama adalah gambaran mengenai hutang dosa kita kepada Allah, sama seperti kematian domba di dalam Perjanjian Lama adalah gambaran mengenai kematian Yesus, tidak lebih dari itu.

Jika kita adalah “Israel rohani” maka yang kita terima adalah dampak dari arti rohaninya, bukan materinya. Tidak ada ayat-ayat di dalam Perjanjian baru yang menerangkan bahwa pembebasan hutang di dalam Perjanjian Lama adalah juga pembebasan keadaan ekonomi kita agar kita menjadi kaya. Tuhan memang bisa membuat kita menjadi kaya, Tuhan memang bisa mencukupi kebutuhan kita, tapi arti dari tahun-tahun pembebasan hutang di dalam Perjanjian Lama sangat jauh bila diterjemahkan demikian, bahkan saya sendiri berpendapat bahwa ayatnya tidak pas untuk menerangkan tentang kekayaan materi.

Jika arti rohani dari kematian domba adalah kematian Kristus, maka kita menerima keselamatan.

Jadi…

Jika arti rohani dari hutang adalah dosa, maka kita menerima pembebasan dosa, bukan pembebasan hutang materi.

Hutang di dalam Perjanjian Lama adalah gambaran mengenai hutang rohani kita kepada Allah, yaitu dosa. Oleh sebab itu Yesus juga memberikan perumpamaan tentang KERAJAAN SORGA dengan cerita “orang yang berhutang.”

Matius 18:21-35

18:21Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”18:22Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.18:23Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.18:24Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.18:25Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.18:26Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.18:27Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.18:28Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!18:29Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.18:30Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.18:31Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.18:32Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.18:33Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?18:34Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.18:35Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Jika kita baca perumpamaan ini, maka kita akan menjumpai pola yang sama dengan doa Bapa Kami seperti yang diajarkan Yesus, yang sudah kita bahas diatas, “ampunilah dosa kami, seperti kami membebaskan orang yang bersalah/berhutang kepada kami.” Yesus menerangkan menerangkan perumpamaan hutang jasmani sebagai arti dari HUTANG ROHANI, BUKAN JASMANI.

Paulus juga menerangkan dengan bagus tentang arti rohani dari hutang.

Roma 8:12-13

8:12Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.8:13Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Disini paulus mengatakan bahwa kita adalah orang yang berhutang, tetapi kita bukan berhutang kepada daging. Jika kita berhutang kepada daging maka kita akan membayarnya dengan cara-cara daging. Jika kita berhutang uang/materi seperti di Perjanjian Lama, maka itu namanya berhutang kepada daging. Kita harus membayarnya juga dengan uang/materi. Tetapi Paulus menerangkan bahwa kita berhutang secara ROHANI.

Ayat-ayat diatas yang Yesus baik Paulus terangkan, menerangkan secara kuat bahwa HUTANG yang mereka maksut adalah HUTANG ROHANI. BUKAN HUTANG JASMANI. Itu adalah arti rohani dari materi jasmani di dalam Perjanjian Lama.

Saya yang hutang, Yesus yang bayar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: