Allah itu Pribadi atau Bukan?


Sampai sekarang saya percaya bahwa pada hakekatnya, Allah adalah “sesuatu yang tidak terbatas.”  Menurut saya sesuatu yang tidak terbatas itu juga bukanlah suatu pribadi, bagi saya tidak ada kata “pribadi yang tidak terbatas,” karena pribadi itu adalah sesuatu yang terbatas. Terbatas oleh apa? Terbatas oleh kepribadiannya sendiri. Maka dari itu kita/manusia yang terbatas tidak dapat mengenal Allah sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Mustahil “yang terbatas” bisa mengenal “yang tidak terbatas.”

Ayub 11:7-8

11:7Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?11:8Tingginya seperti langit–apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati–apa yang dapat kauketahui?

Beberapa orang dari kaum Agnostik menganggap Allah hanya sebagai suatu hakekat yang tidak bisa dikenali secara pribadi. Menurut saya pribadi, pandangan ini ada segi benarnya. Secara tersirat memang Alkitab mengajarkan demikian seperti di surat Ayub 11:7-8 tadi. Tetapi itu tidaklah pengajaran Alkitab secara lengkap, karena Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah juga bisa dikenali sebagai pribadi lewat penyataan-Nya. Saya beriman bahwa Allah sebagai sesuatu yang tidak terbatas itu menjadi suatu pribadi dan menyatakan diri-Nya kepada manusia, agar manusia bisa mengenal Allah, walaupun tidak secara sempurna. Karena Allah adalah tak terbatas maka manusia yang terbatas ini hanya bisa mengenal Allah sesuai dengan apa yang dinyatakan-Nya kepada manusia.

Ulangan 29:29

29:29Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.”

Allah menyatakan Diri-Nya lewat wahyu-Nya kepada nabi-nabi, dan puncaknya ialah melalui  penyataan diri Allah secara daging dengan menjadi pribadi Yesus Kristus.

Yohanes 1:1-3

1:1Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.1:2Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.1:3Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Yohanes 1:14

1:14Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Ada pertanyaan yang datang kepada saya yang menimbulkan diskusi atau perdebatan, saya sebut saja lawan bicara saya dengan  sebutan “si A.”

si A : Anda orang Kristen?

saya: Ya, ada apa?

si A : Katanya Allah-nya orang Kristen itu adalah pribadi ya?

saya: Ya, menurut yang saya pelajari dari Alkitab, Allah menyatakan diri-Nya sebagai pribadi, dan puncaknya adalah menjadi manusia yaitu Yesus. Alkitab mengajarkan ada 3 perwujudan Allah dalam 3 pribadi berbeda, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus, tetapi hakekat Allah yang sebenarnya tidak bisa kita ketahui karena Allah adalah sesuatu yang tidak terbatas.

si A : Kalo begitu, pengajaranmu tentang Allahmu itu tidak logis dong. Kalo pemikiran saya tentang Allah saya, logis.

saya: Maksutnya?

si A : Allah adalah sesuatu yang tidak terbatas, kok jadi pribadi? Berarti jadi terbatas dong? Bukankah pribadi akan terbatas oleh kepribadiannya sendiri? Allah saya itu adalah suatu hakekat yang mengatasi semua yang ada di alam semesta ini, dia tidak bisa dikenal dan tidak bisa diartikan dalam keterbatasan apapun, Allah bukan pribadi dan tidak bisa jadi pribadi. Masakan yang tidak terbatas jadi terbatas? Lalu bagaimana caranya yang bukan pribadi menjadi pribadi? Udah gitu, kok bisa ada 3, tadi katanya Allah adalah 1 yang tidak terbatas, kok jadi 3? Tidak logis kan.

saya: Oh gitu. Menurut saya, anda tidak logis.

si A : Lho? Kok bisa?

saya: Jika Allah itu tidak terbatas, Dia mau jadi apa saja ya bisa, termasuk bisa jadi terbatas atau jadi pribadi. Mo jadi 3 kek, mo jadi 10 kek, ya bisa dong. Jika Allah tidak bisa jadi pribadi dan tidak dapat menjadi 3 perwujudan pribadi, berarti dia adalah “sesuatu yang tidak terbatas yang terbatas” dong? Kan Dia “tidak bisa” kan? Mana ada sesuatu yang tidak terbatas tapi terbatas? Tetapi, bisakah Allah menjadikan diri-Nya menjadi “tidak bisa”? Jawabannya adalah BISA. Karena jika Dia tidak bisa menjadi “tidak terbatas,” maka Dia juga terbatas. Jadi jika Dia menjadi “terbatas,” itu adalah karena kehendak-Nya yang tidak terbatas, itu karena ketidakterbatasan-Nya. Jika Allah adalah sesuatu yang tidak terbatas, berarti Dia mengatasi semua yang ada termasuk logika kita. Jika Allah bisa dilogika itu berarti bukan sesuatu yang tidak terbatas. Jika Allah bisa dilogika maka logikanya adalah, Allah itu lebih rendah dari logika mausia. Itu berarti Allah terbatas, terbatas oleh logika manusia. Itu sama saja dengan, Allahmu adalah logikamu itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: