Resep Manjur Hidup Berkelimpahan (4) – PRINSIP TABUR TUAI (Kaya vs Cukup)


Lanjuta dari blog “Resep Manjur Hidup Berkelimpahan (3) – Berkat Abraham” https://danielyuwono.wordpress.com/2011/03/05/resep-manjur-hidup-berkelimpahan-3-berkat-abraham/

2Korintus 9:6

9:6Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

Yak, mantab sekali ayat ini! Benar-benar mantab! Ini adalah salah satu resep dari sekian banyak resep hidup berkelimpahan. Banyak sekali orang yang menggunakan ayat ini sebagai resep manjur untuk menjadi kaya.Ini adalah ayat yang tidak panjang, simpel tetapi mantab! Banyak pengajaran berkata bahwa jika kita memberi uang banyak, maka nanti akan menuai uang banyak juga. Jadi, jika kita ingin kaya maka kita harus menabur banyak uang ke gereja atau hamba Tuhan itu, nanti kita akan menuai kekayaan materi yang berlimpah-limpah. Jadi bagaimana keterangan dari prinsip ini? Coba kita lihat ayatnya dengan lebih jelas agar kita lebih enak mempelajari resep yang satu ini.

2Korintus 9:6-11

9:6Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.9:7Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.9:8Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.9:9Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”9:10Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;9:11kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

Jika kita membacanya, ternyata konteks 2Korintus 9:6-11 ini bukanlah soal kekayaan materi, lalu soal apa? Disitu dikatakan jika kita menabur, maka harus dengan SUKARELA dan SUKACITA. Sukarela itu berarti kita memberikannya benar-benar dengan hati untuk memberi, bukan dengan motivasi untuk menjadi kaya raya. Jika kita memberi dengan motivasi untuk mendapatkan keuntungan berlipatkali ganda, itu namanya tidak sukarela, itu ada embel-embel dibaliknya. Itu bukan memberi dengan sukarela tetapi dagang mencari untung. Ini sama saja dengan hal “mencari Kerajaan Allah” dan “mengumpulkan harta di Sorga” yang telah kita bahas di dalam blog-blog sebelumnya. Teori ini tidak bisa dibalik. Dengan menabur untuk pekerjaan pelayanan maka kita mengumpulkan harta di Sorga, dengan mengutamakan pekerjaan Tuhan dengan cara menabur dengan sukarela dan sukacita, itu berarti kita juga termasuk “mencari Kerajaan Allah dan Kebenarannya.” Yang dimaksutkan Paulus adalah, jika kita menabur dengan sukacita maka kita akan menuai hasil/buah dari benih taburan kita. Jadi apa yang akan kita tuai?

Di ayat 8 dikatakan “BERKECUKUPAN di dalam segala sesuatu.” Di sini diterangkan bahwa kita jangan kuatir karena Allah itu sanggup memberikan kecukupan kepada kita, kita akan dicukupi oleh Allah di dalam segala sesuatu, termasuk kebutuhan jasmani kita. Disitu dikatakan kita akan CUKUP, bukan berkelebihan. Barulah berikutnya diakatakan “BERKELEBIHAN di dalam PELBAGAI KEBAJIKAN.” Bukan berkelebihan di dalam keuangan dan materi duniawi. Artinya adalah, bahwa Allah sanggup memberikan harta yang berlebih juga, tetapi yang terpenting di sini bukan banyak hartanya tetapi yang terpenting adalah HATI YANG MEMBERI/KEBAJIKAN. Dengan apa yang Allah sudah berikan kepada kita itu harus menjadikan hati kita menjadi suka untuk kita melakukan kebajikan, bahkan berkelebihan/bertambah-tambah/melimpah-limpah di dalam melakukan kebajikan, dengan demikian berarti yang menjadi sorotan di ayat ini bukanlah diperkaya dengan harta duniawi tetapi DIPERKAYA dengan HARTA ROHANI, yaitu kebajikan.

Selanjutnya juga dikatakan “DIPERKAYA dalam segala macam KEMURAHAN HATI.” Betul sekali bahwa Tuhan akan menjadikan kita kaya, tetapi kaya dalam kemurahan hati, bukan kaya dalam harta duniawi. Jika kita menabur untuk menjadikan kita DIPERKAYA DENGAN SEGALA MACAM HARTA DUNIAWI, maaf, saya katakan itu salah alamat! Karena ayat ini berkata kita akan DIPERKAYA DENGAN SEGALA MACAM KEMURAHAN HATI. Artinya kita akan mempunyai hati yang suka memberi, hati yang suka memberi inilah yang menjadi pokok utama dari ayat ini.

Bisakah Allah memberikan harta duniawi yang lebih-lebih/berlimpah-limpah kepada kita? Menurut saya, ayat 2Korintus 9:6-11 ini juga menyatakan bisa. Tetapi bila kita diberikan kelebihanpun, itu adalah untuk kita bisa memberikan yang lebih lagi. Tetapi bisa saja juga Allah tidak memberikan kita harta yang lebih-lebih/berlimpah-limpah, karena inti dari persoalan disini adalah HARTA ROHANInya, BUKAN HARTA DUNIAWInya. Jika Allah memberikan kita kekayaan lalu itu membuat kita jauh dari Allah/kehilangan harta rohani, itu berarti Allah jahat!

Ingatkah anda tentang janda miskin yang memberikan 2peser?

Markus 12:41-44

12:41Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.12:42Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.12:43Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.12:44Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Jika kita melihat ayat diatas dan kita hubungkan dengan 2Korintus 9:6-11, siapakah yang BERKELEBIHAN DALAM PELBAGAI KEBAJIKAN? Siapa yang DIPERKAYA DALAM SEGALA MACAM KEMURAHAN HATI? Orang kaya atau janda miskin itu?

Dalam beberapa kotbah yang saya dengarkan, disitu diajarkan bahwa ayat 2Korintus 9:6-11 dipakai agar kita mendapatkan harta duniawi yang terus bertambah, supaya kita bisa bertambah memberi/memberkati juga. Jika Tuhan tidak memberi banyak, bagaimana kita bisa menabur banyak?

Tanggapan saya, ini adalah pemikiran DUNIAWI(maaf). “Banyak” bagi pendeta yang mengajarkan demikian adalah banyak dalam arti “JUMLAH.” Sedangkan Tuhan melihat banyak atau tidaknya pemberian kita BUKAN BERDASARKAN JUMLAH. Tetapi Tuhan melihat dari seberapa besar pengorbanan kita.

Saya sering menjumpai di gereja-gereja terntentu, ada orang-orang kaya yang menyokong dana di gereja dalam jumlah besar. Orang-orang kaya ini selalu saja disebut-sebut dalam kotbah dan dihormati dan mendapat tempat khusus dari gembala atau dari gereja karena dirasa telah memberikan banyak bantuan dana kepada gereja atau kepada pribadi pendetanya. Tetapi saya juga melihat banyak sekali jemaat-jemaat yang hidupnya pas-pasan, yang datang dengan naik angkutan umum, sepeda, bahkan jalan kaki, mereka juga ikut menyumbang gereja yang tentunya tidak akan terlihat karena mereka memberi sedikit-sedikit. Tetapi apakah kita tahu, ada orang-orang miskin yang memberi dari kekurangan mereka seperti janda yang memberi 2 peser itu? Dari kacamata Tuhan merekalah yang memberikan lebih besar daripada orang-orang kaya itu. Orang-orang kaya itu banyak memberikan ratusan juta karena uangnya miliar. Orang-orang kaya banyak memberikan miliar karena uangnya treliun. Tetapi jemaat yang lain ada yang memberikan hanya seribu dua ribu perak dari hasil pendapatannya yang tidak seberapa.

Ada beberapa pendeta yang mengajarkan bahwa Allah menghitung prosentase, saya juga kurang setuju akan hal ini, karena Tuhan tidak menghitung dari prosentase tetapi yang Tuhan Yesus maksut adalah, dari seberapa lebih dan sebarapa kurang uang itu untuk kehidupan kita. Jika kita mau menghitungnya sebagai prosentase, mungkin hasilnya akan sama. Yang saya maksut adalah sebagai berikut; Jika ada jemaat yang hidupnya pas-pasan memberikan 200ribu dari pendapatannya dalam sebulan yang adalah 1juta, maka dia memberikan 20% dari pendapatannya. Jika ada orang kaya yang memberi 2miliar dari pendapatannya sebulan yang adalah 10miliar, maka orang kaya ini juga memberikan 20% dari pendapatannya. Jika dihitung dalam prosentase maka mereka sama-sama memberikan 20%, hasilnya akan sama. Tetapi ingat saudaraku, salam sebulan orang yang pas-pasan itu harus berjuang hidup dengan uang 800ribu dan orang kaya itu dalam sebulan hidup dengan uang 8MILIAR!!!!!!!!! Jika sama-sama punya 3 anak, saudara bisa bayangkan bagaimana hidup keluarga dengan 3 anak dengan uang 800ribu sebulan dan hidup dengan uang 8MILIAR sebulan. Bedanya tetap jauh bukan? YANG PAS-PASAN MEMBERI DARI KEKURANGANNYA, dan YANG KAYA MEBERI DARI KELEBIHANNYA.

Jadi jika kita kembalikan kepada 2Korintus 9:6-11 tadi, bukan berarti yang punya harta sedikit itu tidak bisa memberikan banyak, sebab yang punya harta banyakpun jika memberi dari kelebihannya itu hitungannya di mata Tuhan adalah lebih sedikit daripada yang memberi sedikit tetapi dari kekurangannya.

Jika kita menggunakan ayat-ayat seperti ini sebagai resep menjadi kaya untuk mencari harta duniawi, maka sebenarnya kita sudah menyalahi ayat tentang “mencari Kerajaan Allah dan Kebenarannya terlebih dahulu.” Jika ayat 2Korintus 9:6-11 ini adalah benar-benar bisa dipakai untuk mencari harta duniawi, maka ayat ini akan menyalahi ayat tentang “mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya,” maka tentulah Firman Tuhan menjadi tidak konsisten/kontradiksi.

Jadi ayat “resep tabur tuai” ini adalah singkron dengan pengajaran Tuhan Yesus tentang “harta di dunia dan harta di Sorga.” Jika ayat tabur tuai ini memang bisa digunakan untuk mencari kekayaan, maka Firman Tuhan akan menjadi tidak konsisten. Banyak orang sekarang hanya mengambil ayat semau-maunya saja untuk memuaskan keinginan mereka. Akibatnya ayat-ayat Alkitab menjadi tidak konsisten satu dengan yang lainnya, pengajarannya menjadi kontradiksi dan hal ini akan membuat suatu pengajaran yang rancu kepada jemaat. Yang dimaksut Alkitab apa, yang diterangkan lain, alias tidak sesuai dengan konteks dan maksut dari Alkitab itu sendiri.

Di dalam ayat-ayat lain pun Firman Tuhan menerangkan hal yang sama.

Yakobus 2:5

2:5Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?

1Timotius 6:17-19

6:17Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.6:18Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi6:19dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

2Timotius 1:13-14

1:13Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.1:14Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.

Ibrani 10:34

10:34Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.

Dan lebih banyak lagi ayat-ayat serupa, yang menerangkan tentang harta-harta yang bukan harta duniawi.

Didalam 2Korintus 9:6-11 tadi diajarkan bahwa Tuhan akan mencukupkan kita, bukan berjanji memberi banyak harta.Ngomong-ngomong tentang “CUKUP,” saya akan memberikan satu pengertian yang saya dapat tentang “CUKUP.”

  • Cukup vs Kaya

Di dalam 2Krointus 9:8 yang telah kita bahas tadi, di situ dikatakan “BERKECUKUPAN.” Apakah ini berati bawa orang Kristen tidak boleh jadi kaya dan hanya hidup pas-pas an saja? Apakah ini berarti bahwa jika kita bekerja atau kita dagang maka kita tidak boleh mengembangkan pekerjaan atau dagangan kita sehingga usaha kita berkembang dan kita menjadi semakin kaya? Ditambah lagi dengan Yesus juga mengajarkan doa “Bapa kami” yang salah satu kalimatnya adalah:

Matius 6:11

6:11Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Ketika saya memperbincangkan atau mensharingkan hal ini kepada perorangan atau kepada suatu perkumpulan, selalu saja ada orang-orang yang langsung mimik mukanya berubah menjadi serius. Entah seriusnya karena penasaran atau seriusnya karena takut kalau-kalau memang benar bahwa orang Kristen tidak boleh menjadi kaya. Yang pas-pasan kuatir karena pengharapannya untuk meningkatkan taraf hidup menjadi musnah seketika, yang kaya kuatir kalau-kalau tidak boleh menjadi orang kaya maka harus menjual hartanya. Mau percaya tapi kok serba salah, mau tidak percaya tapi kok ayatnya berkata demikian.

Sampai saat ini pemahaman saya adalah demikian.

Amsal 30:8-9

30:8Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.30:9Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

Amsal 30:8 mengatakan “biarlah aku menikmati MAKANAN YANG MENJADI BAGIANKU. Jadi ada kemungkinan bahwa kita ini bisa memakan suatu MAKANAN YANG BUKAN BAGIAN KITA. Pertanyaannya apakah yang dimaksut dengan “MAKANAN YANG MENJADI BAGIAN KU?

Di dalam terjemahan lain kita akan kembali menemui kata “CUKUP.” Kata “makanan yang menjadi bagianku” diterjemahkan sebagai “CUKUP untuk memenuhi keperluanku.”

Amsal 30:8(Terjemahan dari “Firman Allah yang Hidup”)

30:8Pertama, tolonglah supaya aku jangan berdusta. Kedua, janganlah memberi aku kemiskinan atau kekayaan! Berilah aku sekadar cukup untuk memenuhi keperluanku!

Di ayat yang ke 9 dikatakan bahwa, jika kita kelebihan makanan/tidak sesuai porsi kita, maka bisa terjadi bahwa kita lupa akan Allah dan menyangkal Allah. Sebaliknya jika kita kekurangan maka bisa saja kita mencuri dan mencemarkan nama Allah. Jadi inti dari ayat ini adalah, baik di dalam kelebihan maupun di dalam kekurangan, dua-dua nya itu tidak baik. Tetapi sampai disini biasanya masih menimbulkan pertanyaan baik dari kalangan yang pas-pasan maupun dari kalangan kaya. Yang pas-pasan akan berpikir “wah jika miskin/kekurangan itu tidak baik, ya bagus lah. Tapi jika kaya tidak baik juga, ya sama saja dong!” Sementara dari kalangan yang kaya akan berpikir juga “waduh, jika tidak boleh miskin ya puji Tuhan, tetapi jika kaya juga tidak boleh ya sama saja harus bagi-bagi harta dong, pusing juga nih!”

Menurut saya, di sini konteks intinya adalah bukan miskin atau kayanya, tetapi yang menjadi inti persoalannya adalah KEMUNGKINAN dari hasil menjadi kaya dan menjadi miskin. Jadi konteks kondisi kaya disini bukanlah hanya suatu kondisi orang yang banyak harta/materi dan konteks kondisi miskin di sini bukan berarti hanya orang yang kekuarangan uang/materi. Tetapi kaya disini adalah SUATU KONDISI YANG MEMBAHAYAKAN, DIMANA ORANG DAPAT MELUPAKAN/MENGHUJAT ALLAH KARENA MERASA MEMPUNYAI KELEBIHAN HARTA. Dan miskin disini adalah SUATU KONDISI YANG MEBHAYAKAN, DIMANA ORANG DAPAT MELAKUKAN TINDAKAN YANG DAPAT MENCEMARKAN NAMA ALLAH KARENA MERASA KEKURANGAN HARTA. Jadi yang menjadi prioritas tertinggi disini adalah, kemungkinan terjadinya kondisi yang buruk antara kita dengan Tuhan, bukan berapa banyak harta yang kita punya. Karena bisa saja orang mempunyai banya sekali harta tetapi masih merasa kurang lalu melakukan tindakan-tindakan dimana akan mencemarkan nama Allah. Bisa juga orang mempunyai harta yang tidak terlalu banyak dalam hitungan angka tetapi sudah merasa berkelebihan dan melupakan Allah. Jika kita mengasumsikan bahwa kaya disini artinya hanya sekedar banyak uang, maka berapakah aset yang harus dimiliki seseorang sehingga bisa disebut kaya? Begitu pula sebaliknya dengan miskin. Tidak ada ukuran harta yang pasti untuk seseorang bisa disebut kaya. Jika kaya diartikan banyak uang, ya bisa saja, tetapi seberapa ukurannya?

Jadi arti dari kata “makanan yang menjadi bagianku” adalah: SUATU KONDISI (ENTAH DENGAN BERAPA BANYAK HARTA YANG KITA PUNYAI) YANG TIDAK MENGAKIBATKAN KITA MELUPAKAN/MENYANGKAL ALLAH  KARENA MERASA KELEBIHAN HARTA, DAN TIDAK MENGAKIBATKAN KITA BERBUAT SESUATU YANG MENCEMARKAN NAMA ALLAH KARENA MERASA KEKURANGAN HARTA.

Sebelum membahas lebih lanjut, saya akan mengajak kita untuk melihat satu ayat lagi.

Markus 9:43-47

9:43Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;9:44(di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)9:45Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;9:46(di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)9:47Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,

Jika kita melihat Markus 9:43-47 ini, Yesus mengajarkan bahwa ada hal yang lebih tinggi/lebih penting sifatnya daripada tubuh kita, hal itu adalah “masuk ke dalam hidup/Kerajaan Allah.” Jika salah satu angota tubuh kita membawa kita ke dalam neraka, janganlah disayangkan, karena yang lebih penting yaitu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Perumpamaan ini bukan berarti jika kita berdosa lalu kita langsung memenggal tangan atau kaki atau memotong telinga atau mencungkil mata, tetapi perumpamaan ini mengatakan bahwa hal yang lebih utama adalah “MASUK KERAJAAN ALLAH.”

Dari pengertian ini, kita bisa melihat dan kembali ke Amsal 30:8. yang dimaksut penulis Amsal juga seperti yang dimaksut Yesus, bahwa ada hal yang lebih penting. Penulis Amsal mengatakan bahwa hubungan dengan Allah adalah lebih penting daripada harta. Tadi sudah kita bahas bahwa istilah kaya itu bukan suatu patokan banyaknya harta, tetapi adalah SUATU KONDISI YANG MEMBAHAYAKAN, DIMANA ORANG DAPAT MELUPAKAN/MENGHUJAT ALLAH KARENA MERASA MEMPUNYAI KELEBIHAN HARTA. Miskin adalah SUATU KONDISI YANG MEBHAYAKAN, DIMANA ORANG DAPAT MELAKUKAN TINDAKAN YANG DAPAT MENCEMARKAN NAMA ALLAH KARENA MERASA KEKURANGAN HARTA. Dan istilah kata “CUKUP/MENJADI BAGIANKU” di dalam Amsal 30:8 adalah SUATU KONDISI YANG TIDAK MEMBAHAYAKAN YANG DAPAT MENGAKIBATKAN KITA DAPAT MELUPAKAN ATAU MENCEMARKAN ALLAH. Jadi Allah adalah lebih penting dari harta, hubungan kita dengan Allah itulah yang paling utama, yang lebih penting dari harta.

Jika kita hubungkan dengan pembicaraan kita diatas mengenai “bolehkah orang kristen menjadi kaya?” Jika kaya dan miskin mempunyai arti seperti yang telah kita bahas, maka menurut saya TIDAK ADA SALAHNYA ORANG KRISTEN PUNYA BANYAK HARTA, JIKA ITU TIDAK MEMBUAT DIA MELUPAKAN ALLAH-NYA.

Jadi jika kita melihat dari berbagai pengajaran tentang “cukup,” maka saya berkata bahwa orang Kristen memang hanya boleh hidup cukup seperti yang Alkitab ajarkan, kata “CUKUP” disini saya artikan demikian: Jika seseorang mempunya banyak harta, dan itu membuat dia lupa akan Allah-nya, maka itu berarti TIDAK CUKUP, itu berarti KAYA(dalam arti berlebihan, seperti konteks amsal 30:8). Jika seseorang mempunyai banyak harta, dan itu tidak membuat dia lupa akan Allah-nya, maka HARTA YANG BANYAK ITU memang CUKUP untuk dia.

Ada banyak orang yang ketika menjadi kaya maka dia lupa akan Allah-nya, menjadi sombong, merasa hebat sendiri, semua dalah hasil usahanya semata-mata, dll. Tetapi ada juga orang-orang Kristen yang ketika menjadi kaya tetap ingat akan Allah-nya bahkan lebih melekat kepada Allah.

Jadi sekali lagi, Alkitab tidak pernah melarang orang Kristen mempunyai banyak harta, tetapi hati-hati, apakah harta itu menjadikan kita melupakan Allah atau tidak? Maka dari itu saya menganjurkan kita berdoa seperti Amsal 30:8-9, dan berdoa seperti yang Yesus ajarkan yaitu doa Bapa kami, bahwa kita meminta kepada Tuhan sesuatu yang CUKUP untuk kita, jangan yang berlebihan yang dapat membuat kita lupa akan Allah kita.

  • Kesaksian yang Tidak Seimbang

Nah, sampai disini kita tahu bahwa Firman Tuhan tidak pernah menjajikan jika kita menabur untuk pekerjaan Tuhan maka kita akan diberkati menjadi kaya raya, karena yang Tuhan inginkan adalah cukup. Karena kelebihan harta/kaya bisa membawa kita kepada bahaya. Dan itu bukan berarti bahwa orang Kristen tidak boleh punya banyak harta, tetapi “cukup” berarti cukup tidak membuat kita melupakan Allah kita. Tetapi ada juga kesaksian-kesaksian dari beberapa orang yang merasa dirinya “diberkati” berlimpah-limpah dan menjadi kaya karena hasil menabur untuk pekerjaan Tuhan. Bagaimana dengan kasus tersebut? Saya akan mencoba menajawab beberapa pertanyaan dari rekan-rekan seiman yang sering menanyakan hal ini kepada saya.

Menurut saya pribadi, banyak sekali kesaksian-kesaksian yang mengakibatkan adanya pengajaran-pengajaran yang tidak seimbang. Banyak sekali kesaksian orang dari miskin(maaf) lalu menjadi kaya, gara-gara mengikut Tuhan. Saya katakan, memang hal ini bisa saja terjadi, Tuhan mempunyai hak untuk membuat orang itu memiliki harta yang banyak atau tidak. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah sudah pasti kekayaan itu adalah hasil dari menabur? Belum tentu bukan? Bisa saja memang sudah waktunya Tuhan mengijinkan orang itu kaya, bisa saja memang usahanya maju. Atau jangan-jangan dari setan bisa tidak? Bisa saja dari hasil usaha kerasnya sendiri? Bisa-bisa saja, sebab banyak sekali orang-orang kaya yang pelit dan menjadi semakin kaya, banyak juga orang-orang jahat yang menjadi semakin kaya. Lalu mengapa saya katakan bahwa kesaksian-kesaksian tersebut tidak seimbang? Karena banyak juga orang-orang yang sudah menabur demi pekerjaan Tuhan yang tidak menjadi kaya. Hanya saja mereka tidak memberikan kesaksian, ya karena mereka pikir, apanya yang disaksikan toh saya kan tidak “mengalami mujizat” menjadi kaya. Jadi yang disaksikan hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak realita yang ada.

Nah, jika kita melihat dengan jelas dan dengan luas realita-realita yang ada di sekitar kita, bahwa ada orang yang menabur dan menjadi kaya dan ada juga yang tidak kaya, maka timbul lagi pertanyaan dari sekeliling saya, “jadi yang benar itu jika orang menabur menjadi kaya atau tidak?” Saya menjawabnya dengan satu pertanyaan: “Ada atau tidak ayatnya yang berkata bahwa jika kita menabur maka kita akan menjadi kaya raya?” Sudah jelas kita bahas diatas bahwa ayat-ayat tersebut tidak mengajarkan bahwa orang yang menabur akan bisa menjadi kaya raya. Jadi apakah kita masih mau dan masih berani memelintir Firman Tuhan?

Banyak saya perhatikan beberapa gereja yang mengajarkan pengajaran “kelimpahan karena menabur,” jemaatnya juga tidak menjadi kaya, justru yang tambah kaya itu gerejanya atau pendetanya. Bagaimana tidak? Siapa sih yang tidak ingin menjadi kaya berkelimpahan? Apalagi menjadi kaya mendadak gara-gara mujizat. Banyak orang kaya juga ingin bertambah kaya, dengan menyumbang gereja dan “memberkati” pendeta-pendeta tertentu mereka akan menjadi sangat royal, bukan karena belajar mencintai Tuhan dan dengan tulus menabur, tetapi karena mereka merasa pengorbanannya akan menjadikan mereka bertambah kaya. Nah, yang saya lihat di lapangan, yang lebih kasihan itu orang yang ekonominya pas-pasan atau berada di bawah rata-rata, mereka juga berbondong-bondong memberikan hartanya untuk gereja/pendeta-pendeta tertentu dengan pemikiran bahwa perekonomian mereka akan semakin membaik, tetapi yang terjadi bukannya ekonomi mereka semakin membaik, tetapi banyak yang ekonominya semakin memburuk karena tidak bijaksana dalam mengatur keuangan. Setelah mereka merasa ekonominya tidak membaik, maka mereka banyak yang kepahitan dan kecewa. Kecewanya sama siapa? Kecewanya sama TUHAN!!!!! Tragis bukan? Padahal Tuhan tidak pernah berfirman jika kita memberi/manabur untuk pelayanan maka kita akan menjadi kaya. Tuhan tidak pernah menipu!!! Lalu jika mereka tertipu, siapa yang menipu??? Silahkan anda renungkan sendiri.

Jemaat mula-mula banyak memberikan hartanya untuk misi penginjilan/pelayanan, tetapi tidak pernah ada Alkitab mencatat mereka semua menjadi kaya raya karena telah memberikan hartanya untuk pelayanan. Paulus juga pernah mengalami kekurangan uang di dalam pelayanannya, jika Paulus kaya raya dia tidak akan menjadi tukang kemah, yang ada mungkin Alkitab mencatat bahwa Paulus menjadi “BOS PABRIK KEMAH.” Di dalam perjanjian baru kita bisa belajar dimana beberapa jemaat di lokasi yang berbeda saling menopang dan saling menabur untuk pelayanan. Mereka begitu tulus karena benar-benar ingin melayani Tuhan, bukan ingin kaya raya.

Saya kagum kepada seorang pendeta(maaf tidak saya sebutkan namanya). Beliau dan gerejanya sedang membangun sebuah gedung gereja dan gedung untuk kepentingan pelayanan yang tidak sedikit dananya. Ketika ada seorang kaya ingin menyumbang, pendeta ini tidaklah cepat-cepat berteriak “HALELUYA…TUHAN MENDENGAR DOAKU!!!” Sebaliknya pendeta ini berkata dan bertanya apakah motivasi orang yang mau menabur ini sudah benar. Tetapi banyak juga saya jumpai kasus-kasus dimana ketika pembangunan gereja sedang dilakukan maka banyak pendeta akan berkotbah dan berkata “ayo…menabur…dan anda akan mendapatkan berlipat kali ganda!!!”

Yang tidak kalah banyak adalah, saya sering menjumpai pendeta-pendeta berkotbah tentang menabur dengan prinsip yang sudah benar, yaitu kita harus menabur untuk pekerjaan Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas. Tetapi kelanjutannya adalah, mereka bilang bahwa, jika kita menabur dengan tulus ikhlas karena mencintai Tuhan, maka niscaya Tuhan akan memberkati kita dan kita akan mengalami kelimpahan materi, jadi bagi siapa yang mau diberkati maka kita harus memberikan/menabur dengan tulus hati. Bagi saya, pengajaran seperti ini lebih aneh lagi. Mana mungkin kita bisa menabur dengan tulus ikhlas jika dengan embel-embel ingin mebdapatkan kekayaan? Ini teori yang tidak mungkin dilakukan, alias tidak masuk akal sama sekali. Ini sama saja seperti “Mencari berkat dengan cara mencari kerjaan Allah” yang telah kita bahas di dalam blog sebelumnya di: https://danielyuwono.wordpress.com/2011/03/05/60/

Allah begitu mengasihi kita. Kita ini telah mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar harta duniawi, kita telah mendapatkan kasih karunia Tuhan. Kita telah diberikan KEHIDUPAN KEKAL YANG DIBAYAR OLEH DARAH-NYA SENDIRI. Jika kita mengerti arti kehidupan kekal dan kematian kekal, maka kita akan mengerti bahwa harta duniawi itu tidak sebanding dengan kehidupan kekal yang telah diberikan-Nya kepada kita. Jika kita menabur untuk pekerjaan Tuhan di bumi ini, hendaklah kita melakukannya karena cinta kita kepada Tuhan, hendaklah kita melakukannya dari hati kita karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita.

God Bless…

2 Tanggapan

  1. kerennn bro🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: