Resep Manjur Hidup Berkelimpahan(1)


Saya pernah mengikuti satu KKR. Di dalam KKR itu Pendetanya berkata bahwa setelah kita percaya Yesus, kita menerima keselamatan. Setelah menerima keselamatan lalu apa yang akan terjadi? Karena kita sudah menjadi anak Tuhan, maka Tuhan akan memberkati kita. Karena Tuhan sendiri memang ingin melihat anak-anak-Nya selalu naik dan bukan turun maka kita akan diberkati. Karena Tuhan adalah Allah yang maha kaya, maka hidup kita akan diubahkan menjadi hidup yang diberkati, bahkan diberkati dengan berlimpah-limpah. Si Pendeta ini menambahkan bahwa kita harus mengimani janji Tuhan ini, Tuhan berjanji kita akan hidup berkelimpahan. Tuhan tidak akan mengingkari janjinya, maka dari itu kita harus mengklaim janji Tuhan. Mendengar pengajaran yang demikian, maka jemaat pun menjadi antusias dan segera mengaminkan perkataan si pendeta tersebut. Siapa sih yang tidak ingin kaya? Jadi pendeta itu mengajarkan urutan kehidupan orang kristen adalah: percaya Yesus dan diselamatkan, diberkati, diberkati berlimpah-limpah dan hidup enak di dunia ini menikmati berkat Tuhan. Wouwww…sungguh fantastis kekristenan kita! Jangan sampai kita ketinggalan!

Juga beberapa kali saya membaca buku-buku tentang “1001 cara menjadi kaya dengan cara alkitabiah,” mengingatkan Tuhan akan janjinya-Nya bahwa kita akan menjadi orang yang diberkati.

Kerapkali saya mendengar kotbah-kotbah seperti model ini. Banyak juga buku-buku yang mengajarkan teori-teori menjadi orang kaya ala Alkitab. Banyak KKR-KKR diadakan dengan memakai slogan-slogan “HIDUP BERKELIMPAHAN, MAKA TIDAK ADA ORANG MISKIN DIANTARAMU, HIDUP SUKSES DIBERKATI, DLL.”

Oke, dengan adanya banyak pengajaran-pengajaran seperti ini, saya sangat rindu mengajak saudara-saudara untuk belajar dari firman Tuhan. Kita akan melihat bagaimana caranya supaya kita bisa mendapatkan hidup yang berkelimpahan. Kita akan belajar menjadi orang yang diberkati dengan cara-cara yang alkitabiah, dengan cara-cara yang Tuhan mau. Pembahasan ini saya beri judul “Resep Manjur Hidup Berkelimpahan,” yang akan saya bagi menjadi beberapa blog, yang masing-masing mempunyai satu pokok bahasan Mari kita mulai perjalanan kita.

Pertama-tama, mari kita lihat sebuah cerita dari pengalaman Yesus sendiri tentang kekayaan.

  • Orang Kaya yang Bodoh dan Orang Kaya yang Pintar

Lukas 12:13-24

12:13Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.”12:14Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”12:15Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”12:16Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.12:17Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.12:18Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!12:20Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?12:21Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”12:22Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
12:23Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.12:24Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!

Di ayat 13 ini, Yesus bertemu dengan seseorang yang mengadu kepada Yesus, meminta keadilan dengan menjadikan Yesus sebagai hakim perihal “berbagi warisan.” Tetapi Yesus ini seringkali memakai suatu kejadian menjadi perumpamaan tentang hal-hal yang rohani yang artinya lebih tinggi dan lebih dalam. Di dalam ayat 15 Yesus memberikan peringatak agar kita waspada terhadap segala KETAMAKAN, sebab walaupun harta kita banyak, tetapi hidup kita tidak tergantung kepada harta yang kita punya. Yesus juga memberikan perumpamaan dengan cerita orang kaya yang mengumpulkan harta sangat banyak, orang kaya ini berpikir kalau hidupnya sekarang sudah tenang, sebab hartanya banyak, setelah ini dia tidak perlu bekerja lagi dan bisa hidup dengan hartanya itu. Tiba orang kaya itu mati. Coba kita lihat ayat yang ke 20.

Lukas 12:20

12:20Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

Di ayat 20 ini, Allah berkata bahwa orang yang berbuat demikian ini orang yang BODOH. Kenapa bodoh? Bukannya setiap orang pada dasarnya memang ingin hidup seperti ini? Jika kita sudah banyak harta, maka tidak perlu bersusah-susah bekerja lagi bukan? Dimana salahnya sehingga Allah berkata bahwa orang ini BODOH?

Bila dilihat secara sepintas, orang kaya ini bertahun-tahun bekerja keras tetapi dia tidak akan bisa menikmati hasil kerjanya. Jadi jika kita tidak bisa menikmati hasil kerja kita, ya percuma. Disitu seolah-olah diceritakan bahwa orang kaya itu tidak bisa menikmati hartanya karena besok dia sudah mati. Apakah inti dari pengajaran Yesus ini adalah hal itu? Jika begitu, pertanyaannya adalah “kan, kita tidak tahu kapan kita mati, jadi bisa saja kita mengumpulkan harta yang banyak dan masih punya waktu untuk menikmatinya selagi hidup? Apa salahnya menikmati kehidupan kita?” Baiklah, untuk mengetahui jawabannya kita akan melihat ayat yang selanjutnya. Kita akan melompati ayat 21 dan langsung ke ayat 22-24.

Lukas 12:22-24

12:22Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.12:23Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.12:24Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!

Disini Yesus mengajar murid-murid agar mereka TIDAK KUATIR. Tidak kuatir akan apa yang akan mereka makan dan pakai, karena Allah tahu dan bisa mencukupi segala kebutuhan kita di bumi ini. Sekali lagi saya tegaskan bahwa Tuhan Yesus berkata “JANGAN KUATIR.” Yesus mengajarkan agar kita tidak mengkuatirkan sesuatu, tetapi Yesus secara implisit juga mengajarkan bahwa ada hal-hal yang harus DIKUATIRKAN, hal yang sifatnya lebih penting atau lebih tinggi daripada mengumpulkan harta di bumi. Nah, sampai disini, pertanyaan kita mulai terjawab pertanyaan kita apa yang dimaksut Yesus dengan “orang bodoh.” Kebodohan orang itu bukanlah karena dia tidak bisa menikmati hasil kerjanya karena besok sudah mati. Tetapi orang bodoh itu mengkuatirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dikuatirkan, dia tidak berpikir ada hal yang lain lagi yang masih perlu dia kuatirkan. Ada hal yang lebih penting dan lebih hakiki, yang lebih patut dia kuatirkan. Itu sebabnya Yesus menyebut orang itu “bodoh.” Tapi hal apakah yang harus kita KUATIRKAN? Oke, kita akan sedikit kembali ke ayat 21.

Lukas 12:21

12:21Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Orang yang bodoh adalah orang yang TIDAK KAYA DI HADAPAN ALLAH. Orang ini memikirkan dan mengkuatirkan harta dan kehidupan duniawi saja. Di ayat 20 tadi dijelaskan bahwa, setelah kita mati, maka harta itu untuk siapa? Artinya yaitu, jika kita mati maka harta itu tidak akan bisa kita bawa dan kita tidak menikmatinya lagi. Yang kita timbun bertahun-tahun itu pasti akan sia-sia saja karena setelah mati, harta itu tidak bisa kita bawa lagi.

Ayat 21 menjelaskan bahwa orang yang tidak bodoh itu adalah orang yang KAYA DI HADAPAN ALLAH. Jadi ada harta yang sifatnya rohani, dikatakan dalam ayat 21, bahwa di hadapan Allah lah kita bisa memiliki harta ini. Kita bisa mengumpulkan harta di bumi dan menjadi kaya di bumi, jika ingin menjadi kaya di hadapan Allah berarti kita juga harus mengumpulkan harta di hadapan Allah/ di sorga.

Jadi kesimpulannya, orang kaya yang bodoh itu bukan karena dia sudah berlelah-lelah mengumpulkan harta tetapi tidak bisa menikmatinya karena keesokannya dia harus mati, dan orang kaya yang pintar bukan pula orang yang mengumpulkan harta di bumi dan bisa menikmatinya di bumi. Inti dari pengajaran Yesus adalah, ORANG KAYA YANG BODOH itu orang yang mengumpulkan harta di bumi dan menjadi kaya di bumi, tetapi ORANG KAYA YANG PINTAR adalah orang yang mengumpulkan harta di sorga dan menjadi orang kaya di sorga/di hadapan Allah.

Lalu bagaimana caranya mengumpulkan harta di sorga dan menjadi kaya di hadapan Allah? Apa yang dimaksut dengan “mengumpulkan harta di sorga?” Apa yang dimaskut “menjadi kaya d hadapan Allah?” Apakah itu berarti nanti di kehidupan yang kekal kita juga akan menikmati makanan yang enak, punya rumah yang besar, mobil mewah dari hasil kerja keras kita dalam mengumpulkan harta di sorga selama di bumi? Jika benar demikian, maka di kehidupan kekal masih ada orang yang lebih miskin, ada orang yang makan makanan yang tidak enak, sementara itu kita bisa memandangi orang-orang kaya yang bisa makan enak dan menikmati semua fasilitas di kehidupan kekal? Jika benar begitu, berarti di kehidupan kekal nanti ada orang yang hidup enak dan ada orang yang hidup tidak enak? Sepertinya hal ini tidak menunjuk kepada sesuatu yang harafiah.

  • Mengumpulkan Harta di Sorga

Matius 6:19-23

6:19“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.6:20Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.6:21Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
6:22Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;6:23jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Sekali lagi kita meihat Yesus berbicara tentang harta di sorga. Di ayat 21 Yesus membahas masalah hati. Di MANA HARTA MU BERADA, DI SITU JUGA HATIMA BERADA. Jika kita menimbun harta di bumi dan memfokuskan hati kita kepada kekayaan diri sendiri maka ini dinamakan “mengumpulkan harta di bumi.” Sebaliknya jika kita memfokuskan hati kita pada kehidupan kekal/keselamatan, maka ini dinamakan “mengumpulkan harta di sorga.” Jadi ini bukanlah harafiah soal harta saja, tetapi lebih dalam lagi yaitu soal hati. Dimanakah fokus hidup kita? Apakah fokus hidup kita untuk harta duniawi yang menguntungkan diri sendiri untuk menikmati hidup di bumi, atau fokus hidup kita adalah memikirkan hal-hal yang rohani?

“Mengumpulkan harta di sorga” itu bukan supaya kita selamat masuk kedalam kehidupan kekal, melainkan hati kita terfokus oleh perkara-perkara sorga/rohani/kekekalan/keselamatan. Kata “mengumpulkan harta” ini dipakai karena Yesus ingin menjelaskan sesuatu tentang keselamatan/hal yang bisa menyelamatkan. Di bumi, jika orang mau SELAMAT maka dia akan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, maka dia akan SELAMAT dari kemiskinan, kelaparan, hidup yang tidak enak, dll. Tetapi KESELAMATAN seperti itu tidak akan bisa menyelamatkan orang itu, karena keselamatan seperti itu sifatnya tidak kekal. Tetapi Yesus memberikan suatu KESELAMATAN yang lain, yang sifatnya kekal atau sifatnya rohani. Maka Yesus memakai istilah “mengumpulkan harta di sorga.”

Matius 19:16-21

19:16Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”19:17Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.”19:18Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,19:19hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”19:20Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?”19:21Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Nah, di sini ada seseorang datang kepada Yesus dan bertanya bagaimana caranya supaya dia memperoleh HIDUP YANG KEKAL. Yesus tidak langsung menyuruh orang itu untuk percaya kepada-Nya. Bila kita sekarang ditanya orang, bagaimana cara memperoleh hidup yang kekal, kebanyakan dari kita sekarang akan menyuruhnya untuk percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat bukan? Hal ini tidak salah, memang Yesus lah satu-satunya jalan menuju kepada Bapa. Tetapi di sini Yesus nampaknya memakai suatu metode yang lain. Biasanya, jika Yesus memakai suatu metode itu ada maksut tertentu dan makna yang lebih dalam.

Pertama-tama Yesus memakai 10 perintah Allah dengan memakai hukum ke 5 dan seterusnya. Hukum ke 5-10 adalah hukum yang berbicara tentang hubungan dengan sesama manusia, yang intinya adalah berada di ayat 19, yaitu “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Orang itu berkata bahwa dia telah mentaati semuanya itu sejak masa mudanya. Tetapi walaupun menurut dia, dia telah melakukan semuanya, tetapi nampaknya yang dilakukan orang itu tidak SEMPURNA atau cacat. Di ayat 21 Yesus berkata “jikalau engkau hendak sempurna…” Dengan kata lain, kasih nya kepada sesama itu tidak sempurna, sesuatu yang tidak sempurna itu tidak dapat membawa kepada kesempurnaan. Jika kita melakukan hukum taurat tetapi tidak sempurna, maka itu sama saja akan membatalkan hukum yang lain. Jadi kita kita mau melakukan hukum taurat maka kita harus melakukannya dengan sempurna. Dengan demikian kita akan beroleh kesempurnaan/hidup yang kekal. Jadi apakah sebenarnya kita bisa sempurna? Bukankah tidak ada manusia yang bisa sempurna?

Yesus berkata kepada orang itu “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Jadi memang benar ada jalan menuju kesempurnaan itu. Yesus berkata pada orang itu, jika dia mau sempurna maka segala hartanya harus dijual dan dibagikan kepada orang miskin dan setelah itu dia harus datang dan mengikut Yesus. 2 hal ini, antara menginggalkan hidup duniawi dan mengikut Yesus adalah 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena hidup yang kekal itu adalah dengan mengenal Yesus sebagai Tuhan, Anak-Allah dan Jurus Selamat kita. Tetapi jika kita mau mengikut Yesus, kita harus meninggalkan segalanya dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada Yesus.

Yohanes 17:3

17:3Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal YESUS KRISTUS yang telah Engkau utus.

Kolose 1:19-22

1:19Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,1:20dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.1:21Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,1:22sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Yang membuat kita sempurna dan memperoleh hidup yang sempurna/kehidupan kekal adalah melalui Yesus. Maka dari itu di dalam Matius 19:21 Yesus menyuruh pemuda itu ikut dengan-Nya. Tetapi pertama-tama Yesus menyuruh orang itu untuk melepaskan harta duniawinya, sebab hatinya ada berada di harta duniawi itu. Hidup nya ada pada keamanan dan kenyamanan harta duniawi. Dari mana kita tahu bahwa orang itu memang hatinya terikat pada hartanya? Sebab ketika Tuhan Yesus menyuruh orang itu menjual hartanya dan membagikannya pada orang miskin, orang itu tidak mau. Yesus tidak pernah menyuruh orang menjadi miskin, jika Allah menyuruh orang menjadi miskin maka untuk apa Allah memberkati Abraham, Daud, Salomo dengan harta? Yang Yesus maksutkan adalah “HATI.”

Sebenarnya Yesus sedang menunjukkan kepada orang ini bahwa orang ini tidak bisa sempurna di dalam melakukan hukum taurat. Orang ini tidak bisa sempurna dalam mengasihi saudaranya. Terbukti dengan setelah Yesus menyuruh menjual hartanya dan membagikan pada orang miskin, maka dia tidak mau. Ini berarti Yesus menyadarkan orang ini bahwa dia tidak bisa melakukan hukum taurat dengna sempurna. Jangankan mengasihi Allah yang tidak terlihat (hukum 1-4), mengasihi saudaranya yang kelihatan saja dia tidak bisa. Tetapi Yesus menawarkan satu jalan yang sempurna, yaitu dengan mengikut Kristus. Lalu apakah dengan mengikuti Yesus maka kita harus miskin dengan menjual segala harta kita dan membagikannya kepada orang miskin? Tidak, maksutnya bukan begitu. Tetapi apakah bisa jika kita mengikut Kristus tetapi hati kita masih ada pada harta? Itu namanya mengikut harta, bukan mengikut Yesus. Jika kita mengaku mengikut Yesus tapi masih berdoa minta harta supaya kita bisa jadi kaya, itu namanya mengikut harta, Yesus hanya dijadikan alat kita untuk mengikut harta. Itu bukan mengikut Yesus. Mulut kita berdoa kepada Tuhan tetapi hati kita kepada harta. Itu sama saja seperti orang di Matius 19:16-26 tadi, dia mau selamat, datang kepada Tuhan, tetapi hatinya tidak datang kepada Tuhan, hatinya tertinggal di rumah bersama dengan harta-hartanya. Jelas Tuhan tidak mau cara seperti itu, kalau mau mengikut Tuhan itu harus dengan seluruh hidup kita, termasuk hati kita. Ada satu pertanyaan yang pernah datang kepada saya: “Jika kita percaya pada Tuhan Yesus tetapi masih ingin memperkaya diri juga, bagaimana? Apakah juga selamat? Kan percaya Yesus?”

  • Dua Tuan

Matius 6:19-34

6:19“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.6:20Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.6:21Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.6:22Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;6:23jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.6:24Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”6:25“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?6:26Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?6:27Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?6:28Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,6:29namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.6:30Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?6:31Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?6:32Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.6:34Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Ini adalah ayat yang panjang, tapi rasanya saya harus menuliskannya agar kita jelas di dalam membahas soal harta/kekayaan.

Disini Yesus menerangkan banyak hal tentang kekayaan materi duniawi.

Yang pertama, Yesus berbicara mengenai MATA/PANDANGAN.

Matius 6:19-34

6:19“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.6:20Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.6:21Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.6:22Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu;6:23jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

Di ayat 21 Yesus berbicara masalah hati. Seperti telah kita bahas sebelumnya, sebenarnya yang Yesus maksut adalah bukan soal seberapa kaya atau miskin kita, tetapi masalah HATI. Disini Yesus menerangkan bahwa dimana harta kita, disitu pula hati kita. Harta adalah masalah yang sangat penting bagi kelangsungan hidup kita di dunia, harta dapat membuat kita bertahan hidup, harta dapat membuat kita merasa aman karena kita akan terus bisa hidup. Dengan mempunyai banyak harta maka segala kebutuhan hidup kita akan terpenuhi, bahkan segala keinginan kita akan terpenuhi, kecuali satu, KESELAMATAN.

Masalah harta adalah masalah yang sangat penting bagi kehidupan di dunia ini. Yesus pun berkata bahwa hati kita itu ada bersama-sama dengan harta kita. Artinya apa? Kita bisa melihat yang Yesus maksutkan di ayat 22. Di ayat 22 Yesus berbicara tentang “MATA.” Mata adalah penglihatan kita. Jadi apa hubungan nya antara penglihatan, hati dan harta?

Apakah jika kita punya harta di bank maka hati kita ada di bank juga? Apakah jika kita punya harta di lemari maka hati kita di lemari juga? Bukan seperti itu. Jika mata kita gelap maka gelaplah seluruh tubuh. Artinya, jika pandangan hidup kita terfokus pada harta duniawi, disitulah hati kita. Jika pandangan hidup kita, kita fokuskan pada harta sorgawi, maka disitupulalah hati kita. Jika kita fokus kepada hal-hal duniawi maka itu berarti hati kita ada pada dunia, bukan kepada kekekalan. Meskipun kita percaya pada Yesus, jika fokus pandangan kita kepada harta dunia dengan segala kesuksesannya untuk kenikmatan kita, maka itu berarti hati kita tidak bersama Yesus. Seperti pertanyaan di atas, jika orang percaya pada Yesus tetapi hatinya masih condong kepada harta dunia, apakah tidak selamat? Kan sudah percaya Yesus?

Nah, kita akan melihat jawabannya di ayat selanjutnya.

Matius 6:24

6:24Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Ternyata jawabannya adalah “TIDAK BISA.” Kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan. Jika kita ingin sungguh-sungguh ingin mendapatkan hidup yang kekal/selamat, kita harus mengabdi pada Tuhan. Orang yang percaya kepada Yesus tetapi pikirannya selalu saja berfokus kepada harta dan ingin memperkaya diri sendiri itu sama saja BUKAN PENGIKUT KRISTUS. Orang yang mau hidup kekal tetapi pikirannya masih harta dan kekayaan semata, itu sama saja dengan orang yang ingin masuk ke dalam kekekalan tetapi hatinya masih di dunia. Dia tidak akan bisa mendapatkan kekekalan. SEBAB SEBENARNYA DIA BUKAN PENGIKUT KRISTUS. Orang yang mau mengikut Kristus, hatinya juga harus mengikut Kristus, seluruh hidupnya akan menjadi milik Kristus. Kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan.

1Timotius 6:10

6:10Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Sampai disini kita tahu bahwa Firman Tuhan sangat-sangat memperingatkan kita akan bahaya dari harta dunia. Kekayaan atau harta di dunia itu bisa menjadi penghambat keselamatan kita. Ini sangat bahaya, sebab orang bisa saja mengaku dengan mulutnya bahwa dia pengikut Kristus, tetapi seorang pengikut Kristus sejati adalah orang yang melakukan perintah-Nya, bukan orang yang hanya mengaku bahwa dia adalah murid Kristus

Yohanes 8:31

8:31Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku

Yohanes 14:15

14:15“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

Lukas 9:23

9:23Kata-Nya kepada mereka semua: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

Orang yang menuruti/melakukan firman Tuhan itu adalah tanda bahwa orang itu benar-benar pengikut Kristus. Dan apa yang Tuhan firmankan kepada kita tentang soal harta? “JANGAN MENGUMPULKAN HARTA DI BUMI, TETAPI KUMPULKANLAH HARTA DI SORGA.” Jadi orang yang masih memfokuskan pikirannya kepada harta di bumi dan tidak mau berusaha memfokuskan diri pada harta di sorga, apakah dia bisa disebut sebagai pengikut Kristus? Untuk menjadi pengikut Yesus, kita harus melakukan perintah Yesus, perintah Yesus adalah agar kita mengumpulkan harta di sorga.

Matius 6:25-34

6:25“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?6:26Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?6:27Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?6:28Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,6:29namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.6:30Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?6:31Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?6:32Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.6:33Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.6:34Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita agar kita tidak terlalu memikirkan harta dan kekayaan kita. Memang selamat kita hidup di dunia kita memerlukan semua fasilitas untuk kita bisa hidup dan Yesus berkata bahwa Bapa mengetahui semua yang kita perlukan. Bapa akan mencukupi setiap kebutuhan kita. Yang Yesus ajarkan adalah MENCARI KERAJAAN ALLAH DAN KEBENARANNYA. Ketika kita mencari kerajaan Allah dan kebenarannya, kita tidak usah kuatir akan kebutuhan kita karena Bapa sanggup menambahkan semuanya itu. Menambahkan yang kita butuhkan adalah bagian Bapa, bagian kita hanyalah mencari kerajaan Allah dan kebenarannya.

Disini Yesus tidak pernah mengajarkan agar kita tidak bekerja. Karena firman Tuhan juga mengajarkan kita bekerja (ams 6:6-11 , ams 30:25 , 2Tes 3:6-11 , tit 3:14). Yesus hanya berkata bahwa Allah itu bukanlah Allah yang cuek-cuek saja terhadap kebutuhan anak-anak-Nya, jadi kita jangan kuatir akan apa yang kita butuhkan. Jika kita kuatir apa yang kita butuhkan, hal itu akan membelenggu kita sehingga kita tidak bisa memberikan hati kita kepada hal-hal sorgawi, kita tidak bisa melaksanakan kehendak Tuhan, sebaliknya kita akan terus memikirkan dan mengusahakan hal-hal untuk kebutuhan kita sendiri bahkan kekayaan kita sendiri. Dan jika kita kuatir, itu namanya tidak percaya kepada Allah, itu sama saja dengan berpikir bahwa Allah tidak dapat menyediakan semuanya itu. Jika kita mengenal Allah, maka kita tidak akan kuatir karena Allah pasti akan mencukupi setiap anak-anak-Nya. Jika kita kuatir, maka kita sama saja dengan tidak mengenal Allah. Oleh sebab itu dikatakan, bahwa kekayaan dunia itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka memang tidak tahu bahwa Allah sanggup menyediakan semuanya itu, hal itu wajar karena mereka tidak mengenal Allah.

Tuhan sangat serius dalam memandang persoalan harta ini, kita tidak boleh terikat kepada keinginan-keinginan duniawi, mengumpulkan harta kekayaan untuk kenyamanan pribadi kita. Orang yang terikat kepada harta akan sangat fatal akibatnya. Berikut ini saya akan memberikan beberapa ayat lagi tentang peringatan akan hidup dalam harta duniawi.

Pengkhotbah 5:13

5:13Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri.

Matius 13:22

13:22Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

1Timotius 6:10

6:10Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

1Timotius 6:17

6:17Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

Jika kita kembali kepada konsep “mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya,” apakah Yesus mengajarkan, jika kita mencari kerajaan Allah dan kebenarannya maka kita akan diberkati Bapa dan menjadi kaya? Jika benar begitu berarti jika kita ingin mendapatkan berkat dari Bapa maka kita bisa mendapatkannya dengan jalan “mencari kerajaan Allah dan kebenarannya?” Ini saya sebut sebagai salah satu resep manjur menjadi kaya/resep manjur hidup berkelimpahan. Kita akan membahasnya.

Selain resep “mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya,” kita juga akan membahas beberapa “RESEP MANJUR HIDUP BERKELIMPAHAN” ala pengajaran-pengajaran masa kini. Karena banyak yang akan kita bahas, maka saya akan membaginya menjadi beberapa blog.

Silakan dan selamat menikmati episode berikutnya dalam….“Resep Manjur Hidup Berkelimpahan(2) – MENCARI KERAJAAN ALLAH.”

God Bless…


4 Tanggapan

  1. topik bahasan blog nya ok pak daniel<gbu

    • wah wah wah…ini pak Diki bengkel langganan saya ya? ^_^

      thx buat komen dan dukungan nya pak diki, kayanya sebentar lagi saya harus ke bengkel ni buat ganti ban, ban nya sudah rada gundul hehehe ^_^

  2. mas Daniel, mantap banget neh.. Salut sama orang2 Kristen yang bisa berpikir begini, mari kita kembalikan kekristenan ke track yg seharusnya..mencari Tuhan, bukan berkat Tuhannya saja..GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: